Selamat datang! Selamat membaca!


Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
atas kunjungan Anda ke portal ini.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila setelah membaca
tulisan dari para kontributor, komentator atau curahan hati
dari para pembaca, membuat Anda merasa tersinggung bahkan marah.

Bukan maksud kami atau penulis untuk menyinggung langsung
kepada para pembaca, karena sebuah tulisan bukanlah
suatu benda atau suara yang dapat Anda rasakan.
Silahkan tulis dengan jelas komentar Anda tentang
tulisan yang membuat Anda tersinggung agar kami dapat
memperbaiki tulisan di portal ini..

Terima kasih apabila tulisan para kontributor dapat bermanfaat
untuk Anda. Silahkan Anda gunakan sebaik-baiknya.
Kami doakan Anda berhasil. Apabila masih ada keraguan
dalam mempraktekkannya, silahkan hubungi kami.

GURU DAN MURID

Written by Hendrawan on May 30, 2008 – 3:10 am - Dibaca 236 kali

Terasa jengah dan lucu ketika terdengar sebutan – panggilan .. GURU ..SUHU .. wueh, serasa geli dan mual jika fitnah itu tertuju kepadaku .. hehehhe

Hekekat sebenarnya kedudukan itu tidak absolute, berbeda dengan sekedar gelar atau julukan atau symbol komunikasi.

Pada saat kita berdiri didepan di kelas sebagai pengajar, hakekatnya pengajaran itu tertuju ke diri-sendiri, manfaat itu lebih besar sejujurnya untuk diri sendiri.

Di sebuah kelas pelatihan dengan Trainer yang sangat tersohor, ada seorang Tono hadir sebagai peserta, dengan berbagai alasan dia hanya duduk diam tanpa expresi sepanjang pelatihan pagi itu.
Sang Trainer sibuk bertanya-tanya, kenapa joke yang dia lempar terasa garing bagi si Tono, kenapa dia hanya diam tanpa bertanya, tidak menunjukkan ekspresi tertarik, tidak menunjukkan mengerti atau belum, dsb.
Hal ini meresahkan sang Trainer, keangkuhannya sebagai trainer ternama menjadi tercabik-cabik. Berbagai jurus dia keluarkan, hanya sekedar merubah ekspresi dan membuka mulut si Tono yang tak kunjung tiba.

Saat istirahat siang, dia tidak makan, dia berpikir keras, buka primbon, call friend, .. membuka kitab kuning, diary .. and so on .. and so on .. Tanpa terasa mengalir dengan deras pembelajaran-pembelajaran dia dapatkan siang itu, memory-memori lama .. sharing dari teman, dari internet, dari buka kitab-kitab sakti ..

Selesai istirahat dengan gagahnya dia melangkah menuju medan pertempurannya .. pertempuran dengan egonya .. mengalahkan kediaman si Tono.
Brak .. pintu kelas dia tendang .. loncatan salto ke panggung sandiwara tuk memulai dagelan kehidupan.
Dia dengan pongahnya bak Mahaguru dari khayangan menyapu ruangan, mencari dimana si Tono berada .. waks .. nggak ketemu .. walah.. mana nih ..
Dia tidak perduli dengan peserta yang lain .. si Tono .. Tono .. dimana kau .. dimana kau yang sudah menghancurkan harga-diriku .. dimana kau yang memaksa aku untuk berjibaku pagi tadi, yang membuatku berpikir keras – menggali – mencari – menciptakan variasi jurus-jurus yang ampuh ..

Lemas sekali dia tidak bisa menemukan si Tono .. aku butuh dia, aku butuh dia untuk menaikkan egoku kembali .. aku butuh dia untuk membuka mataku .. aku butuh dia tuk mengasah ilmuku .. aku butuh kehadirannya .. aku butuh pengakuannya .. aku butuh dia tuk selalu belajar hal-hal baru …

Si Trainer ngumpat dalam hati, sialan aku dipaksa untuk belajar oleh si Tono .. tapi akhirnya diapun dipahamkan, .. oohhhh,.. si Tono mengingatkanku bahwa aku sedang belajar dengan mengajar .. sejatinya para murid itulah guru-ku, yang membuat aku semakin baik .. semakin baik ..

Tiada seorangpun dikelas itu yang mengenal si Tono .. siapa gerangan Tono .. Sang MahaGuru .. yang hadir mengajar dengan diam belajar .. menjadi murid untuk sebagai guru.

Aku butuh murid-muridku .. aku membutuhkan mereka agar aku bisa mengajar dan sekalian belajar untuk bisa mengajar dengan baik .. aku butuh muridku sebagai guru-ku, guru dikehidupan.

Disebuah pojokan jalan, terlihat si Tono sedang ngopi dengan kaki nangkring diatas kursi … wajahnya terlihat sangat bersyukur .. sambil dia teringat kejadian pagi tadi .. sialan tuh orang, akulagi lewat mau ambil gelas minuman di tarik disuruh duduk di kelas .. wuuehhh, omong apaaan nggak ngerti blas .. yang jelas daganganku nggak laku pagi tadi .. rugi berat .. makanya aku cepat kabur jauh nggak mau jualan di sana.

Hendrawan


Posted in Umum | No Comments »
Email This Post Email This Post

Post a Comment

Spam Protection by WP-SpamFree