Selamat datang! Selamat membaca!
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
atas kunjungan Anda ke portal ini.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila setelah membaca
tulisan dari para kontributor, komentator atau curahan hati
dari para pembaca, membuat Anda merasa tersinggung bahkan marah.
Bukan maksud kami atau penulis untuk menyinggung langsung
kepada para pembaca, karena sebuah tulisan bukanlah
suatu benda atau suara yang dapat Anda rasakan.
Silahkan tulis dengan jelas komentar Anda tentang
tulisan yang membuat Anda tersinggung agar kami dapat
memperbaiki tulisan di portal ini..
Terima kasih apabila tulisan para kontributor dapat bermanfaat
untuk Anda. Silahkan Anda gunakan sebaik-baiknya.
Kami doakan Anda berhasil. Apabila masih ada keraguan
dalam mempraktekkannya, silahkan hubungi kami.
“Belajar dari Pembelajaran yang Dihadapi”
Written by Kang PUHONG on August 5, 2008 – 10:51 am - Dibaca 416 kaliBelajar itu ada beberapa macam cara:
- Belajar dengan cara melalui Pendidikan Sekolah, Kursus, Les dan yang sejenis lainnya.
- Belajar dengan cara melalui Pergaulan diluar Pendidikan Sekolah, Kursus, Les dan sejenis lainnya.
- Belajar dengan cara melalui Perenungan Diri.
Dari beberapa macam Belajar itu semua, pada dasarnya adalah dengan jalan Perenungan Diri, yang dimaksud dengan Perenungan Diri itu adalah dengan mengunakan PIKIRAN dan PERASAAN. Dalam menggunakan PIKIRAN dan PERASAN itu biasanya Manusia lebih mengutamakan PERASAAN nya dulu, sebagai Pertimbangan dibenaknya. dan jarang sekali menggunakan PIKIRAN nya untuk sebagai Pertimbangan dibenaknya. Kenapa demikian terjadinya? Itu dikarenakan Manusia mempunyai PIKIR dan RASA sehingga menjadi PIKIRAN dan PERASAAN, yang sering dan banyak terekam dalam Benak Manusia adalah PERASAAN, sedangkan rekaman PIKIRAN lebih sedikit dibandingkan dengan PERASAAN. sehingga dapat disebut sudah menjadi kebiasaan bagi Manusia yang menggunakan PERASAAN nya itu untuk mengambil suatu keputusan dan Pertimbangan dalam sesuatu masalah, sehingga menjadi terbiasa yang akibatnya membentuk Dirinya. Ciri-ciri dari Orang yang seperti itu biasanya sulit untuk diajak berpikir, sehingga ketika belajarpun Orang tersebut akan kesulitan menerima pelajaran tentang jawaban yang perlu pemikiran, dikarenakan yang dipikirkan adalah perasaannya dulu. sehingga tidak terpikirkan jawaban jang dijawab adalah Perasaannya, dengan ciri-ciri lain adalah mudah Emosi mudah tesinggung dan gampang lelah.
Beda dengan Orang yang menggunkan PIKIRAN unuk memjawab masalah yang jawabannya dengan Pemikiran, Orang seperti ini biasanya gampang diajak berpikir, sehingga ketika belajarpun orang tersebut akan mudah menerima pelajaran, ciri lain dari Orang seperti ini biasanya tidak mudah Emosi tidak mudah tersinggung dan tidak kenal lelah.
Untuk meningkatkan Potensi bagi Orang yang sering menggunakan PIKIRAN, mungkin diperlukan belajar efesiensi berpikir diperbaiki dengan 7 Steps Habitnya , guna menemukan efesien cara bepikirnya. Sedangkan untuk meningkatkan Potensi bagi Orang yang sering menggunakan PERASAAN, mungkin diperlukan belajar meggunakan PIKIRAN diperbaiki dengan 7 Steps to Emotional Intelligence.
Yang boleh dianggap penting adalah belajar untuk membedakan PIKIRAN dan PERASAAN, mana Pikiran yang dipikirkan dan mana Perasaan yang Dirasakan, serta mana Pikiran yang Dirasakan dan Perasaan yang Dipikirkan.
Tulisan ini ditulis, adalah saya belajar meniPu dan memboHongi diri sendiri, karena menipu dan membohongi Orang lain itu mudah, untuk diri sendiri agaklah sulit, semoga yang membaca tulisan ini tidak seperti saya. sebagai tuKang tiPu dan boHong (Kang PuHong).
Jujur pada orang lain, saya mau belajar. Jujur ke diri sendiri, saya OGAH.
Tags: Bohong, Diri Sendiri, Menipu, Perasaan, Pikiran
Posted in Umum |
Email This Post

By Njigrag on Aug 5, 2008 | Reply
Luarbiasa … suiiit ..suiiit … bravoooo …
By Kang PUHONG on Aug 5, 2008 | Reply
Njigrag. sulit emang sulit!!! soalnyaaaaaa, biasa diluar, jadi gak keliatan kalo didalem terus, magkanya diumpetin terus betah didalem ya biarkan saja. yang didalem didalemyang diluar ya diluar, boleh gak sih belajar jujur ke orang lain?????????. gimana caranya jujur sama diri sendiri! kok berat amat yaaaaah. aaah uadah aja biarin yaaah jangan diusik -usik, ogahambilRESIKOnya, beraaaaaaaaat deh.
By SETAN ALAS on Aug 12, 2008 | Reply
Ah si Abang, …….
By Kang PuHong on Aug 12, 2008 | Reply
Setan Alas! emangnya kenapa?. kalau gak merasa ya syukur itu kan yang saya alami. paling gak bisa tu! jujur ma diri sendiri.kalau jujur ma orang lain sih! gampang aja. kalau ngebohongin orang saya mah sudah menjadi adat istiadatbahkan menjadi kebudayaan. jadi susah mau jujur ma diri sendiri.sebab kalu lagi cerita jujur banyak yang gak percaya. ya udah dibohongin malah banyak yang senang.ya jadi kebiasaan deh ngebohong terus.
By Muakhor Zakaria on Dec 13, 2008 | Reply
Mudah…perasaan adalah hati nurani yang sebenarnya,pikiran takan bisa menentukan sesuatu masalahpun sedangkan hati/perasaan bisa menentukan mana yang harus di selesaikan.pikiran itu sama dengan Ego,perasaan sama dengan Kelembutan.ego sama saja dengan keinginan dalam pemikiran untuk mengingat sesuatu
By anglo gosong on Dec 14, 2008 | Reply
Wow, luar biasa Bung Muakhor Z…atas pencerahannya
Perasaan = kelembutan ya?
By Nova on Dec 22, 2008 | Reply
gue setuju dengan kata2x “ada hal yang perlu dikatakan dan ada hal yang tidak perlu dikatakan” sekalipun ini bersifat sepihak namun hal ini sedikit banyak hal ini bisa juga dipakai tapi yang perlu diingat jangan selalu tapi hanya pada saat yang memang diperlukan saja.mengenai Jujur kepda diri sendiri gue tahu itu ga mudah tapi ada cara buat ngatasi hal itu, menurut-ku jujur kepada diri sendiri bisa dilatih dengan cara selalu berkata jujur kepada orang lain kemudian gunakan jurus kerendahan hati yang tinggi yaitu, dengan mengakui kekurangan diri sendiri serta mengerti kekurangan orang lain.mang pertamanya agak kikuk, tapi lama2x jadi hal yang biasa dan hal yang kita senangi begono bapaknya….tapi, secara realitasnya tentang hal yang ente ungkapken entu jujur gue setuju banget karena gue juga ngalamin hal yang serupa. contohnya, gue sering minta dan mendorong orang lain untuk berkata jujur tapi setelah gue sadari ternyata gue sendiri juga ga mau jujur dengan orang lain bahkan diri sendiri. gue bisa ngomong kayak gini karena semua upaya yang gue usahakan doesn’t work properly trus gue mikir what’s d problem ? pikirku. perasaan dah dicek dan ga ada yang salah, eh ternyata kurangnya yaitu gue belum sama sekali mengaplikasikan teori tersebut makanya ga jalan…gtu…jadi intinya setiap jalan keluar ataupun perkataan yang dapat membantu diri sendiri atau orang lain haruslah kita mulai dari diri sendiri baru semuanya bisa jalan dengan lancar, bukan begitu bukan …..hehehe……………
By Kang PuHong on Dec 24, 2008 | Reply
Pearasaan bukanlah Hati Nurani. Hati Nurani ut sering terbunggkus oleh Perasaan EGO. sehingga sering terjadiadanya Perasaan Marah Benci,Sesal, dan lain-lainnya yg sejenisnya. Sedangkan Hati Nurani itu adalah RASA yg Tidak terpengaruh oleh banci dendam,amarah dan sejenisnya. yang da pada HATI Nurani RASA CINTA KASIH yang MURNI TULUS DAN IHKLAS dalam segala Hal. tidak pernah terpengaruh oleh rasa Benci Amarah Sirik Picik Licik Dengki dan Suudon dan lain2nya. jadi siapa yang sanggup dikendalikan Oleh Hati Nuraninya Dialah yg Bahagia. dan siapa yang mengendalikan Hati Nuraninya Niscaya mengalami Kerisauan dan kegalauan selalu sulit mendapat ketenangan