Selamat datang! Selamat membaca!


Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
atas kunjungan Anda ke portal ini.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila setelah membaca
tulisan dari para kontributor, komentator atau curahan hati
dari para pembaca, membuat Anda merasa tersinggung bahkan marah.

Bukan maksud kami atau penulis untuk menyinggung langsung
kepada para pembaca, karena sebuah tulisan bukanlah
suatu benda atau suara yang dapat Anda rasakan.
Silahkan tulis dengan jelas komentar Anda tentang
tulisan yang membuat Anda tersinggung agar kami dapat
memperbaiki tulisan di portal ini..

Terima kasih apabila tulisan para kontributor dapat bermanfaat
untuk Anda. Silahkan Anda gunakan sebaik-baiknya.
Kami doakan Anda berhasil. Apabila masih ada keraguan
dalam mempraktekkannya, silahkan hubungi kami.

Petuah yang Disalahgunakan (3)

Written by 'Bos Ngapusi' on October 26, 2008 – 10:28 pm - Dibaca 154 kali

Unconscious Mind vs Subconscious Mind

“Apakah memang ada perbedaan antara subconscious mind dan unconscious mind. Bedanya di mana? Dan bagaimana tahu perbedaanya? Mohon pencerahan!”

Pertanyaan di atas diajukan oleh seorang penanya di dunia maya ke saya. Pertanyaan ini membuat saya agak kaget karena dalam dunia NLP modern, hal ini sudah bukan menjadi rahasia lagi. Apalagi sejak adanya kebutuhan para founder NLP untuk melakukan pengkaderan trainer dan peneliti NLP generasi baru di awal tahun 2000-an. Dimana Robert Dilts memulai dengan Millenium Project, dan sepanjang yang saya tahu John Grinder dengan New Code-nya, Richard Bandler dengan Neuro Hypnotic Repatterning-nya, Connirae Andreas dengan Core Transformation dan banyak lagi. Saya pikir mereka sudah mulai mengajarkan kepada kader-kader utamanya dalam kelas khusus tentang perbedaan di antara keduanya.

Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika saya masih belum membedakan keduanya di dalam training yang saya selenggarakan.

Pada saat itu saya baru saja selesai mengajar di sebuah kelas dan para peserta pun baru selesai memberikan kesaksian atas hasil yang mereka dapatkan dari kelas tersebut. Dalam keadaan yang puas dan berbangga diri, tiba-tiba Coach mendatangi dan mengatakan, “Saya kecewa, kamu masih belum bertobat, tipu daya kamu dalam pengajaran masih terlalu jahat.”

Saya bingung. “Loh, semua yang saya ajarkan sesuai dengan teori dari NLP. Salah di bagian mananya?”, ujar saya membela diri.

“Kamu ngajarin mereka doktrin yang kamu dapatkan di Amerika bahkan tanpa menyesuaikan dengan budaya Indonesia.”

“Tapi ‘kan berhasil dan mereka semua happy.” jawab saya dalam keadaan antara marah dan bingung.

“Kalau kamu tidak tahu kenapa sebuah metode dan teknik itu berhasil pada seseorang. Dan apa yang kemudian mengubah kehidupan seseorang; kamu tidak akan tahu dampak dari terapi dan pengajaran yang kamu berikan hari ini bagi kehidupan orang tersebut selanjutnya.”

“Maksudnya?” Mata saya memicing tajam menatapnya tetapi di saat yang sama tenggorokan saya sepertinya tercekat dan kering.

“Kamu tahu ‘kan bahwa banyak orang menjadi terlalu percaya diri sehingga hidupnya malah jadi bangkrut setelah ikut training jalan di atas api yang diselenggarakan di Malaysia dan Singapura.”

“Betul? Memang masalahnya ada di mana?”

“Masalahnya adalah mereka tidak tahu mengapa metode dan teknik itu terlihat seperti membawa perubahan.”

“Lalu? Dari para founder pun saya belajar bahwa dalam NLP lebih menekankan akan ‘How’nya daripada ‘Why’nya.”

“Betul!”

“Di tingkat praktisi dan master praktisi bahkan di tingkat trainer juga jarang membicarakan ‘Why’nya. Kenapa hal ini sekarang jadi masalah?”

“Setuju! Coba kamu ingat-ingat lagi pada waktu kamu mendapatkan kelas khusus Robert Dilts… Apa yang kamu pelajari di sana?

Saya terdiam dengan pertanyaan itu.

Coach kemudian melanjutkan,“Di tingkat seperti ini kamu seharusnya sudah dapat membedakan ‘Why’ sebagai pembenaran atau ‘Why’ yang dipakai sebagai tools awal untuk mengenal kebenaran.”

“Ok, baik. Tapi dalam hal apa saya perlu berubah agar tidak menjerumuskan orang-orang dari pemahaman yang merugikan?”

Sambil tersenyum tipis Coach berkata, “Mulailah membedakan Subconsciuous dan Unconsciuos dalam pengajaran dan terapimu.”

“Hah!!? Apakah hal itu begitu penting untuk tingkatan NLP Indonesia saat ini?” ujar saya setengah protes. (Saat itu masih di awal tahun 2000-an)

Dengan tenang Coach bertanya kembali, “Apa bahasa Indonesianya untuk menerjemahkan Subconscious Mind?”

“Pikiran Bawah sadar!” jawab saya setengah berteriak.

“Apa? PIKIRAN Bawah Sadar?” Nada dan suara Coach agak keras dan sinis.

“Emang betul, kok. Apanya yang salah?” Kenapa dari tadi semuanya salah terus, batin saya yang memang sudah sangat kesal dari sejak tadi.

“Pada waktu kamu menyebut Pikiran Bawah Sadar ke murid-muridmu. Kamu sudah menginstall bahwa Mind manusia hanyalah terdiri dari pikiran. Orang seperti kamu inilah yang telah merusak bangsa ini sehingga sampai pada kondisi seperti sekarang ini.”

“Loh? Mind itu ‘kan pikiran. Dimana-mana terjemahannya begitu!” ujar saya dengan marah.

“Coba buka kamus Thesaurus. Apa itu Mind?”

Jawab saya, “Isi otak. Brain!”

“Apakah brain hanya berisi pikiran?”

Di situ saya tersentak sadar, “Oh!”

“Di dalam Mind manusia berisi pikiran dan perasaan sehingga ketika kamu menterjemahkannya sebagai PIKIRAN Bawah Sadar. Kamu sudah menginstall mereka untuk hanya mengunakan pikiran dan tidak mengunakan perasaan dalam bertindak dan berperilaku. Akibatnya, manusia Indonesia menjadi tidak tahu malu. Oleh karenanya bertobatlah! Sudah terlalu dalam dosa yang kamu perbuat dalam pelatihan-pelatihan yang kamu selenggarakan!”


Posted in Umum |
Email This Post Email This Post


9 Responses to “Petuah yang Disalahgunakan (3)”

  1. By Wang Pa Tan on Oct 27, 2008 | Reply

    @#$%$%^$@!$^N …. $%#$&&*&*(%$$N … @#$$%%%^ …. gubraaaaak …. SHAME ON MEEEEEEEE …

  2. By Tukang Mlintir Merica on Oct 27, 2008 | Reply

    Ah Boss daripade ribut soal mane yang bener antare subconscious dan unconscious mending kita berpikir out of the box aje. Kata teman ane yang namanya John, ceileee teknik my friend John nih. jangan - jangan yang namanye alam sadar dan bawah sadar itu sebenarnye ngga ada, bener ngga boss ? atau jangan - jangan adanya alam samping sadar atau alam lain hiiiiii

  3. By Suhu Cong Te Pu on Oct 27, 2008 | Reply

    Akhirnya sambungannya dimuat juga…. mudah-mudahan tidak menyinggung conscious dan merangsang unconscious para pembaca.

  4. By Bang Rommy on Oct 27, 2008 | Reply

    Hahahhaha…..Makasih Pak Guru Boss Ngapusi,.. entah kenapa saya tertawa tawa membacanya,.. saya ngebayangin aja dialog2 yang ada disitu..

    Bagi saya, bawah sadar, sadar, unconscious, subconscious cuman masalah LABEL,…; pengertian saya yang Naif&dho’if ini kalau unconscious lebih ‘DALAAM’…; SUBCONSCIOUS digambarkan kalau kita sedang bawa mobil, seperti otomatis kita menjalankannya, pindah2 gigi, perselening, injak pedal gas dan rem…; unconscious lebih ‘dalaaaamm’ lgi dari itu… ; ada hubungannya dengan gelombang otak: beta alpha teta delta…

    Dari sumber2 yang pernh ada, terbukti bahwa ilmuan2 besar seperti Thomas Alfa Edison, Isaac Newton, Albert Einstein menemukan temuan2nya yang luar biasa dalam kondisi antara Sub dan Unconsc…..dalaaaaammm..

    Pertanyan saya Pak Guru :

    1). Sub and unconsc. mind ada hubungan/ gimana hubungannya dengan gelombang otak yang beta alpha teta delta?..

    2). So,…jadi apa itu UNCONSCIOUS dan SUBCONSCIOUS mind?…sepertinya belum selesai tuh artikelnya??…, ada “perasaan”nya??… kan di subconsc. mind pasti juga ada unsur ‘perasaannya’???…

    Salam…
    Bang Rommy

  5. By wong usil on Oct 28, 2008 | Reply

    Nyam..nyam…enak nian…Terasa kress…kressnya…

  6. By "bos ngapusi" on Nov 3, 2008 | Reply

    To Tukang Mlintir Merica

    Sebenarnya perdebatan mslh subconscious dan unconsious sudah lama selesai , sejauh yang saya tahu para peneliti NLP sudah mulai memanfaatkan perbedaan ke 2 nya untuk mendesign metode dan tehnik yang terbaru didalam terapi maupun pengajaran diera setelah thn 2000 , saya menyebutnya sebagai NLP modern utk membedakan dengan NLP traditional ,Mr Grinder melabelnya dgn New Code NLP utk membedakan dengan Classic Code

    Salam Ngapusi

  7. By "bos ngapusi" on Nov 3, 2008 | Reply

    To Bang Rommy,

    saya setuju bahwa Subconscious dan Unconscious adalah LABEL , Bicara NLP memang pada akhirnya bicara mengenai LABEL , bagi praktisi NLP bahkan “NLP” pun adalah LABEL, hanya saja Pemahaman mengenai LABEL “MIND” yang benar akan membantu praktisi NLP melakukan terapi dan pengajaran yang utuh didalam Jiwa seseorang , kami meLABEL nya sebagai “Congruent dan Ecology”.

    BRAIN WAVES atau gelombang otak adalah salah satu cara utk dapat mengetahui perbedaan antara Conscious dan SubConscious , sedang utk Unconscious tidak terlalu berpengaruh dengan BRAIN WAVES

    Didalam berbagai kesempatan Kang Pu Hong menjelaskan bahwa cara paling Eficient utk dapat berkomunikasi dengan Unconscious mind justru pada kondisi gelombang otak yang aktif yaitu Beta (diatas 16 putaran per detik)

    salam ngapusi selalu

  8. By Bang Rommy on Nov 5, 2008 | Reply

    Boss Ngapusi..

    Terimakasih atas penerngannya..

    Terimakasih atas penjelasannya selama ini…

    Salam berbahagia selalu,
    Bang Rommy

  9. By Wang Pa Tan on Nov 6, 2008 | Reply

    Bang Rommy … emang ada yang terang ??? lampu kali

Post a Comment