Selamat datang! Selamat membaca!


Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
atas kunjungan Anda ke portal ini.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila setelah membaca
tulisan dari para kontributor, komentator atau curahan hati
dari para pembaca, membuat Anda merasa tersinggung bahkan marah.

Bukan maksud kami atau penulis untuk menyinggung langsung
kepada para pembaca, karena sebuah tulisan bukanlah
suatu benda atau suara yang dapat Anda rasakan.
Silahkan tulis dengan jelas komentar Anda tentang
tulisan yang membuat Anda tersinggung agar kami dapat
memperbaiki tulisan di portal ini..

Terima kasih apabila tulisan para kontributor dapat bermanfaat
untuk Anda. Silahkan Anda gunakan sebaik-baiknya.
Kami doakan Anda berhasil. Apabila masih ada keraguan
dalam mempraktekkannya, silahkan hubungi kami.

-+ TRAINER adalah PELATIH yang MELATIH +-

Written by Kang PUHONG on July 29, 2009 – 4:43 pm - Dibaca 409 kali

Dikurun zaman era globalisasi ini, di Indonesia telah terjadi banyak perubahan yang begitu pesatnya. Salah satunya adalah dibidang Sumber Daya Manusia ( SDM ). Yang mana sudah ada Mentri Pemberdayaan SDM di Indonesia ini.

Berkat adanya Mentrinya di Negeri ini, munculah para Trainer – Trainer yang berkualitas sebagai Trainer, sehingga sering mengadakan Training dibeberapa tempat dan hampir diseluruh pelosok negeri ini sudah mengenal apa itu namanya Training dan berserta para Trainernya. Hampir di setiap Perusahaan Pemerintah dan Perusahaan Swasta, sampai para Guru dan Dosenpun bahkan para Mahasiswanya pun banyak yang mengikuti berbagai Training yang diselengarakannya, dengan tujuan meningkatkan SUMBER DAYA yang dimilikinya,

Dari hasil mengikuti Training selama ini, ternyata tidak banyak PERUBAHAN dibidang SUMBER DAYA MANUSIA nya, setelah Training kembali KEHABITAT semula. Yang ternyata selama ini banyak yang SALAH GUNA mengenai Training itu sendiri. Pengamatan saya yang agak picik dan yang sok tahu ini, mencoba menganalisa kejadian dari semua Training yang terjadi di Indonesi, Dimana cara Penyampaian sebuah Ilmu mengenai SUMBER DAYA MANUSIA itu dapat dilakukan dengan cara :

1. Memperkenalkan dan menjelaskannya = mengetahui ( Presenter & Interpret ).

2. Memberikan Pelajaran dan Pengertian = mengerti ( Learning ).

3. Melatihnya hingga paham.= menggunakan ( Training ).

4. Membimbingnya hingga dapat menfaatkan = dapat menfaatkan ( Coach )

Sehingga dengan ke tiga cara tersebut diatas dilakukan secara benar, maka hasil dari suatu pelatihan akan mempunyai hasil yang baik, sedangkan saya dalam pelatihan yang terjadi selama ini bercampur baur tidak jelasnya suatu pelatihan, yang disebut latihan ( training ) itu kebanyakan hanyalah melatih Hapalan dari judul-judul sebuah Metode dan Teknik belaka, dengan cara Presenter & Interpret mengimlakan /mendikte nama-nama dari Metode dan Teknik yang di Training.

Yang sesungguhnya saya adalahTrainer sebagai Pelatih yang Melatih Hapalan belaka, tentang Metode dan Teknik sampai sebatas mengetahui (Presenter & Inerpret) saja, yang saya anggap sebagai Pelatihan. ternyata saya bukanlah sebagai PELATIH ( TRAINER) yang sesungguhnya melatih SUMBER DAYA MANUSIA agar menjadi POTENSI DIRI.

Melatih Manusia untuk menjadi ahli dibidang olah raga itu layak disebut Pelatih Olah Raga. Melatih Manusia untuk menjadi ahli dibidang Suara itu layak disebut Pelatih Olah Suara. Melatih Manusia untuk ahli dibidang Photo,Vidio, itu layak disebut Pelatih Olah Penglihatan

Nah! Bagaimana melatih Manusia diluar bidang yang diatas????, apakah masih perlu dilatih oleh Manusia lain?????. Dan yang anehnya adalah saya tidak pernah mau mengenali SDM yang diliki oleh saya, apa lagi mekatihnya untuk menjadi Personal Power. Tahu namanya SDM tapi tak kenal Rupa dan Jenisnya SDM itu sendiri seperti apa?????????.

Jadi yang namanya PELATIH ( TRAINER ) itu sesungguhnya siapa sih???????????????. Kalau bukan Manusia itu sendiri yang TAHU DIRI akan SDM yang dimilikinya, lalu melatihnya menjadi PERSONAL MASTERY sehingga mempunyai PERSONAL POWER.


Posted in Umum | 4 Comments »
Email This Post Email This Post


4 Responses to “-+ TRAINER adalah PELATIH yang MELATIH +-”

  1. By ki ageng selo on Jul 30, 2009 | Reply

    lagi jamane kolobendu kang.

  2. By Bagas Koro on Jul 30, 2009 | Reply

    Mongkone, Kang eling ko telat? mbok biyen2! ne saiki piye to! ngeladrah dadine? wajar Kang! aku ae ngelatih manuk siul lan ngomong asal manuke Beo! sing iso dilatih, ne sing lianne angel, mangkane akeh sing mirip Beo gara2 ssmpean ngelatih imla neng wong. yo sukur dadi tukang dokar asal ojo ngajari wong nyetir kapal mabur, sebab elmu ra gatuk.wong sing jenenge manungso iku kan pun duwe Sumber Dayane dewe. kok wani2 sampeyan ngelatihe? tego2ne manungso dipadani manuk kang kang????

  3. By eclipse on Dec 6, 2009 | Reply

    Catatan Perjalanan

    Ada suatu waktu, sekitar 8 tahun yang lalu, di mana saya begitu senang dengan tepuk tangan, jabat erat, tawa lepas dan hasil evaluasi yang ‘great’ dari setiap kelas pelatihan yang saya berikan.

    Empat tahun sebelum itu terjadi, saya mengalami berbicara di depan kelas dan orang garuk2 kepala sampai ketombenya berterbangan – ia bingung, makhluk di depannya ngomong apa. Dua belas tahun yang lalu itu, mau buat training pun membuat kepala pening apa yang mau diomongkan, bagaimana cara ngomongnya, bagaimana membuat orang tetap terjaga – alias nggak tidur atau keluar ruangan. Weleh, padahal memberi training itu adalah ritual kalau bukan disebut kewajiban setiap hari Sabtu.

    Tepuk tangan, jabat erat, senyum terima kasih dah hasil evaluasi yang baik seakan menjadi ‘upah’ untuk sebuah usaha menjadi lebih baik. Ya, memang lebih baik untuk ukuran ‘jago kandang’, karena semua training itu adalah di dalam perusahaan tempat saya bekerja.

    Seorang teman yang belum lama saya kenal waktu itu bilang, “Internal trainer baru benar-benar trainer ketika mampu memberikan training di kelas public” Heh….ada tingkatan yg lebih tinggi rupanya….Baiklah, siapa takut??

    Sial benar saya ini kenal dengan makhluk2 di Cahaya Hati. Training manager ditertawakan dan dikritik habis waktu menunjukkan keterampilan membawakan training di depan demo class yang mereka buat. Ah, belum lagi ketika trial class. Kalau yang namanya dr. Stefanus sampai garuk2 kepalanya yang semi botak, artinya dia bingung harus ngomong bagaimana (bukan ngomong apa). Parahnya….Ini cerita tahun 2004.

    2006, saya menghindari disebut dengan predikat trainer dan lebih nyaman dengan predikat fasilitator. Bukan fasilitator pelatihan, tapi fasilitator workshop. Saya mulai tidak lagi bernafsu untuk membuat orang mengerti apa yang saya maksud dan mengikuti apa yang saya mau.

    2007, ilmu merancang program pelatihan yang saya dapat dari kuliah S2 saya terpakai dengan cara yang diluar dugaan. Disain menjadi lebih tepat dan mengena kebutuhan peserta, ketika rancangan menempatkan peserta sebagai subjek pelatihan. Yah, itu memang teori dasar dalam perancangan pelatihan, tapi saya paham bagaimana menempatkan peserta menjadi subjek. Apa yang disebut training needs assessment, training needs identification, training needs analysis, training implementation monitoring kini menjadi hidup. Bukan sekedar pengetahuan tapi menjadi ilmu untuk saya.

    2008. adalah momentum kesadaran bahwa pelatihan bukan sekedar aktivitas mandiri, melainkan bagian dari sebuah skenario besar dalam organisasi sebuah institusi dan dalam organisasi kehidupan sebuah pribadi. Tanpa melihat organisasi itu, pelatihan menjadi ‘bisu – dingin – tak bernyawa’

    Dalam konteks perusahaan, pelatihan adalah bagian dari pengembangan manusia. Dalam konteks pribadi, pelatihan adalah bagian dari pengembangan sumber daya manusia. Dalam pengembangan, fokus memang pada suatu hal tertentu, tetapi tetap perlu memperhatikan variable-variable lain yang berpengaruh, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pelatihan tersebut.

    Pada akhirnya, yang menentukan keberhasilan suatu pelatihan, workshop, pendadaran, pengayaan, atau apapun namanya itu bukanlah apa materinya, siapa pembimbingnya atau hal-hal lainnya – yang menentukan keberhasilan adalah pribadi pesertanya; sehingga layaklah pribadi2 peserta itu yang berpredikat trainer.

    Pembawa materi, pembawa cerita, pengaya wawawasan, provokator, teroris, atau penggembira bertanggung jawab untuk menguasai cara terbaik untuk ‘menyadarkan’ trainer akan potensi, kemampuan, kebutuhan, keinginan, jalan serta harga untuk menjadi lebih baik; tapi bukan ‘menyuapi – memaksakan – memasung’.

    Syukurlah saya menyadari hal ini sebelum lebih banyak mencelakakan orang dan berbangga dengan hasil evaluasi yang great for nothing; no practical impact.

    Satu chapter dalam kehidupan telah berjalan, chapters berikutnya masih menanti. Ah, betapa membebaskannya sebuah kesadaran…..meski prosesnya begitu memuakkan hahaha…. Terima kasih rasa sakit, karena Engkau mengajarkan aku sebuah nilai yang lebih luhur.

  4. By eclipse on Dec 22, 2009 | Reply

    Twisted Intention

    Dua hari lalu saya diundang seorang teman trainer untuk peresmian kantor ketiganya. Kantornya lumayan representative karena terletak di sebuah pusat perdagangan besar di Jakarta. Ceritanya dia mengembangkan keterampilan dan sense kewirausahaan melalui program pelatihan dan sudah mencapai lebih dari 10 angkatan dalam waktu kurang dari 3 tahun. Well, mungkin bukan angka fantastis jika tidak kenal programnya yang 6 bulan pelatihan dan 6 bulan bimbingan.

    Dia sdh pny kantor di 3 kota besar di Indonesia, sekarang sdg dilirik oleh sebuah bank besar di Indonesia untuk kerjasama dan sebuah perguruan tinggi swasta untuk dapat menjadi program khusus. Kalau bicara pengaruh, tentu saja pengaruh teman saya ini menjadi luar biasa. Bukan karena dia pembicara keliling atau TV personality, tp karena dia membantu orang lain mengubah hidup mereka, membantu menemukan semangat baru bagi para orang yang akan pensiun, keberanian bagi orang muda yang mau memiliki usaha sendiri, kebangkitan bagi mereka yang pernah jatuh dalam usahanya. Sebuah kisah yang menarik.

    Buat saya itu semua mengingatkan saya pada apa yang namanya PASSION. Saya sering bilang dalam training-training saya “Without PASSION life would be POISON for the individual and the surroundings”.

    Tapi lebih dari sekedar PASSION, saya sesungguhnya tertampar dengan keras oleh sebuah fakta perjalanan kehidupan.

    Orang bijak bilang, sebuah pertemuan mungkin tampak sebagai sebuah kebetulan tapi seringkali menyimpan sebuah maksud dan nilai tentang kebenaran. Tiga tahun lalu saya bertemu dengan rekan saya ini di sebuah acara camping para trainer di Sukabumi. Saat itu, rekan ini memang sangat antusias dan haus akan ilmu dan haus untuk berbagi pengetahuannya. Tiga tahun lalu dia sudah mulai kegiatan trainingnya di Batam.

    Tiga tahun lalu saya dalam saat terakhir untuk keluar dari perusahaan dan menjalankan usaha sendiri sebagai trainer dan konsultan. Dan, memang saya mendapat satu klien besar yg menyita waktu saya selama 2 tahun, bahkan untuk bertemu keluargapun terakhir hanya 1 minggu dari 1 bulan, sisanya di luar kota.

    Akhir dari konsultasi itu adalah NOL. Apa yang diperjanjikan sudah diberikan, orang sudah dilatih, tetapi akhirnya semua dikembalikan ke status awal – bahkan lebih parah.

    Okay, mungkin orang akan bilang, yo wis toh sdh dibayar…. Ya, memang saya sudah dibayar tapi tetap saja bukan hal yang menggembirakan jika apa yang dikerjakan lalu diabaikan atau dibuat carut marut. Saya jadi bertanya, apanya yang salah ya??

    Dua hari yang lalu menjadi pencerahan buat saya. Kok ya saya fokus untuk ngurusin perusahaan orang, bantuin perusahaan orang untuk akhirnya kecewa dan sakit hati. Kok bodoh ya, kenapa gak buat dan ngurus perusahaan sendiri saja??

    Okay, tapi dasarnya saya ini memang konsultan yang sukanya mencari masalah untuk diselesaikan dan menerima bayaran untuk jasa memecahkan masalah itu…. Hei….tunggu!!!

    Ada yang salah tampaknya. Terdengar merdu untuk memecahkan masalah orang lain ya? Mmmm saya memecahkan masalah orang lain untuk mendapat bayaran?? Waduh celaka!! Lalu orang jadi tergantung donk untuk terus dipecahkan masalahnya?? apa begitu ya konsultan?

    Lalu ngakunya membantu perusahaan, padahal sebenarnya mencari kepuasan diri sendiri. Mmmm, tampaknya teman saya berada pada jalan yang lebih terang, dia berfokus pada tujuan membantu orang lain yang benar-benar mau untuk menjadi usahawan mandiri – dengan usaha itu dia mendapat keuntungan.

    Ah betapa pandirnya aku ini…Menipu diri dengan mengaku membantu orang lain sehingga dapat uang padahal sebenarnya mencari uang dengan membantu orang lain.

    Tindakan rupanya memang boleh sama tapi niatannya dapat bertolak belakang, bertentangan sama sekali antara satu niat dan niat yang lain.

    Ya Allah, kembalikan aku ke jalan kehidupan yang benar, bantulah aku untuk melihat ‘ke dalam’ untuk mengenal apa PASSION ku dan menjalankannya. Jika usahaku berkenan, izinkan aku untuk menghidupi keluargaku dengan usahaku itu.

    Terima kasih teman, untuk undanganmu minggu malam kemarin. Kau belum tahu bahwa hari itu kau sudah menyadarkan aku akan ke-doif-an ku.

Post a Comment