<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: -+  TRAINER adalah PELATIH yang MELATIH  +-</title>
	<atom:link href="http://kehidupanpd.info/2009/07/29/trainer-adalah-pelatih-yang-melatih/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kehidupanpd.info/2009/07/29/trainer-adalah-pelatih-yang-melatih/</link>
	<description>Because Your LIFE is IMPORTANT</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Apr 2010 23:06:45 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: eclipse</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2009/07/29/trainer-adalah-pelatih-yang-melatih/comment-page-1/#comment-4593</link>
		<dc:creator>eclipse</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 12:30:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=166#comment-4593</guid>
		<description>Twisted Intention

Dua hari lalu saya diundang seorang teman trainer untuk peresmian kantor ketiganya. Kantornya lumayan representative karena terletak di sebuah pusat perdagangan besar di Jakarta. Ceritanya dia mengembangkan keterampilan dan sense kewirausahaan  melalui program pelatihan dan sudah mencapai lebih dari 10 angkatan dalam waktu kurang dari 3 tahun. Well, mungkin bukan angka fantastis jika tidak kenal programnya yang 6 bulan pelatihan dan 6 bulan bimbingan. 

Dia sdh pny kantor di 3 kota besar di Indonesia, sekarang sdg dilirik oleh sebuah bank besar di Indonesia untuk kerjasama dan sebuah perguruan tinggi swasta untuk dapat menjadi program khusus. Kalau bicara pengaruh, tentu saja pengaruh teman saya ini menjadi luar biasa. Bukan karena dia pembicara keliling atau TV personality, tp karena dia membantu orang lain mengubah hidup mereka, membantu menemukan semangat baru bagi para orang yang akan pensiun, keberanian bagi orang muda yang mau memiliki usaha sendiri, kebangkitan bagi mereka yang pernah jatuh dalam usahanya. Sebuah kisah yang menarik.

Buat saya itu semua mengingatkan saya pada apa yang namanya PASSION. Saya sering bilang dalam training-training saya &quot;Without PASSION life would be POISON for the individual and the surroundings&quot;. 

Tapi lebih dari sekedar PASSION, saya sesungguhnya tertampar dengan keras oleh sebuah fakta perjalanan kehidupan.

Orang bijak bilang, sebuah pertemuan mungkin tampak sebagai sebuah kebetulan tapi seringkali menyimpan sebuah maksud dan nilai tentang kebenaran. Tiga tahun lalu saya bertemu dengan rekan saya ini di sebuah acara camping para trainer di Sukabumi. Saat itu, rekan ini memang sangat antusias dan haus akan ilmu dan haus untuk berbagi pengetahuannya. Tiga tahun lalu dia sudah mulai kegiatan trainingnya di Batam.

Tiga tahun lalu saya dalam saat terakhir untuk keluar dari perusahaan dan menjalankan usaha sendiri sebagai trainer dan konsultan. Dan, memang saya mendapat satu klien besar yg menyita waktu saya selama 2 tahun, bahkan untuk bertemu keluargapun terakhir hanya 1 minggu dari 1 bulan, sisanya di luar kota.

Akhir dari konsultasi itu adalah NOL. Apa yang diperjanjikan sudah diberikan, orang sudah dilatih, tetapi akhirnya semua dikembalikan ke status awal - bahkan lebih parah.

Okay, mungkin orang akan bilang, yo wis toh sdh dibayar.... Ya, memang saya sudah dibayar tapi tetap saja bukan hal yang menggembirakan jika apa yang dikerjakan lalu diabaikan atau dibuat carut marut. Saya jadi bertanya, apanya yang salah ya??

Dua hari yang lalu menjadi pencerahan buat saya. Kok ya saya fokus untuk ngurusin perusahaan orang, bantuin perusahaan orang untuk akhirnya kecewa dan sakit hati. Kok bodoh ya, kenapa gak buat dan ngurus perusahaan sendiri saja??

Okay, tapi dasarnya saya ini memang konsultan yang sukanya mencari masalah untuk diselesaikan dan menerima bayaran untuk jasa memecahkan masalah itu.... Hei....tunggu!!!

Ada yang salah tampaknya. Terdengar merdu untuk memecahkan masalah orang lain ya? Mmmm saya memecahkan masalah orang lain untuk mendapat bayaran?? Waduh celaka!! Lalu orang jadi tergantung donk untuk terus dipecahkan masalahnya?? apa begitu ya konsultan?

Lalu ngakunya membantu perusahaan, padahal sebenarnya mencari kepuasan diri sendiri. Mmmm, tampaknya teman saya berada pada jalan yang lebih terang, dia berfokus pada tujuan membantu orang lain yang benar-benar mau untuk menjadi usahawan mandiri - dengan usaha itu dia mendapat keuntungan. 

Ah betapa pandirnya aku ini...Menipu diri dengan mengaku membantu orang lain sehingga dapat uang padahal sebenarnya mencari uang dengan membantu orang lain. 

Tindakan rupanya memang boleh sama tapi niatannya dapat bertolak belakang, bertentangan sama sekali antara satu niat dan niat yang lain.

Ya Allah, kembalikan aku ke jalan kehidupan yang benar, bantulah aku untuk melihat &#039;ke dalam&#039; untuk mengenal apa PASSION ku dan menjalankannya. Jika usahaku berkenan, izinkan aku untuk menghidupi keluargaku dengan usahaku itu.

Terima kasih teman, untuk undanganmu minggu malam kemarin. Kau belum tahu bahwa hari itu kau sudah menyadarkan aku akan ke-doif-an ku.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Twisted Intention</p>
<p>Dua hari lalu saya diundang seorang teman trainer untuk peresmian kantor ketiganya. Kantornya lumayan representative karena terletak di sebuah pusat perdagangan besar di Jakarta. Ceritanya dia mengembangkan keterampilan dan sense kewirausahaan  melalui program pelatihan dan sudah mencapai lebih dari 10 angkatan dalam waktu kurang dari 3 tahun. Well, mungkin bukan angka fantastis jika tidak kenal programnya yang 6 bulan pelatihan dan 6 bulan bimbingan. </p>
<p>Dia sdh pny kantor di 3 kota besar di Indonesia, sekarang sdg dilirik oleh sebuah bank besar di Indonesia untuk kerjasama dan sebuah perguruan tinggi swasta untuk dapat menjadi program khusus. Kalau bicara pengaruh, tentu saja pengaruh teman saya ini menjadi luar biasa. Bukan karena dia pembicara keliling atau TV personality, tp karena dia membantu orang lain mengubah hidup mereka, membantu menemukan semangat baru bagi para orang yang akan pensiun, keberanian bagi orang muda yang mau memiliki usaha sendiri, kebangkitan bagi mereka yang pernah jatuh dalam usahanya. Sebuah kisah yang menarik.</p>
<p>Buat saya itu semua mengingatkan saya pada apa yang namanya PASSION. Saya sering bilang dalam training-training saya &#8220;Without PASSION life would be POISON for the individual and the surroundings&#8221;. </p>
<p>Tapi lebih dari sekedar PASSION, saya sesungguhnya tertampar dengan keras oleh sebuah fakta perjalanan kehidupan.</p>
<p>Orang bijak bilang, sebuah pertemuan mungkin tampak sebagai sebuah kebetulan tapi seringkali menyimpan sebuah maksud dan nilai tentang kebenaran. Tiga tahun lalu saya bertemu dengan rekan saya ini di sebuah acara camping para trainer di Sukabumi. Saat itu, rekan ini memang sangat antusias dan haus akan ilmu dan haus untuk berbagi pengetahuannya. Tiga tahun lalu dia sudah mulai kegiatan trainingnya di Batam.</p>
<p>Tiga tahun lalu saya dalam saat terakhir untuk keluar dari perusahaan dan menjalankan usaha sendiri sebagai trainer dan konsultan. Dan, memang saya mendapat satu klien besar yg menyita waktu saya selama 2 tahun, bahkan untuk bertemu keluargapun terakhir hanya 1 minggu dari 1 bulan, sisanya di luar kota.</p>
<p>Akhir dari konsultasi itu adalah NOL. Apa yang diperjanjikan sudah diberikan, orang sudah dilatih, tetapi akhirnya semua dikembalikan ke status awal &#8211; bahkan lebih parah.</p>
<p>Okay, mungkin orang akan bilang, yo wis toh sdh dibayar&#8230;. Ya, memang saya sudah dibayar tapi tetap saja bukan hal yang menggembirakan jika apa yang dikerjakan lalu diabaikan atau dibuat carut marut. Saya jadi bertanya, apanya yang salah ya??</p>
<p>Dua hari yang lalu menjadi pencerahan buat saya. Kok ya saya fokus untuk ngurusin perusahaan orang, bantuin perusahaan orang untuk akhirnya kecewa dan sakit hati. Kok bodoh ya, kenapa gak buat dan ngurus perusahaan sendiri saja??</p>
<p>Okay, tapi dasarnya saya ini memang konsultan yang sukanya mencari masalah untuk diselesaikan dan menerima bayaran untuk jasa memecahkan masalah itu&#8230;. Hei&#8230;.tunggu!!!</p>
<p>Ada yang salah tampaknya. Terdengar merdu untuk memecahkan masalah orang lain ya? Mmmm saya memecahkan masalah orang lain untuk mendapat bayaran?? Waduh celaka!! Lalu orang jadi tergantung donk untuk terus dipecahkan masalahnya?? apa begitu ya konsultan?</p>
<p>Lalu ngakunya membantu perusahaan, padahal sebenarnya mencari kepuasan diri sendiri. Mmmm, tampaknya teman saya berada pada jalan yang lebih terang, dia berfokus pada tujuan membantu orang lain yang benar-benar mau untuk menjadi usahawan mandiri &#8211; dengan usaha itu dia mendapat keuntungan. </p>
<p>Ah betapa pandirnya aku ini&#8230;Menipu diri dengan mengaku membantu orang lain sehingga dapat uang padahal sebenarnya mencari uang dengan membantu orang lain. </p>
<p>Tindakan rupanya memang boleh sama tapi niatannya dapat bertolak belakang, bertentangan sama sekali antara satu niat dan niat yang lain.</p>
<p>Ya Allah, kembalikan aku ke jalan kehidupan yang benar, bantulah aku untuk melihat &#8216;ke dalam&#8217; untuk mengenal apa PASSION ku dan menjalankannya. Jika usahaku berkenan, izinkan aku untuk menghidupi keluargaku dengan usahaku itu.</p>
<p>Terima kasih teman, untuk undanganmu minggu malam kemarin. Kau belum tahu bahwa hari itu kau sudah menyadarkan aku akan ke-doif-an ku.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: eclipse</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2009/07/29/trainer-adalah-pelatih-yang-melatih/comment-page-1/#comment-4532</link>
		<dc:creator>eclipse</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 14:25:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=166#comment-4532</guid>
		<description>Catatan Perjalanan

Ada suatu waktu, sekitar 8 tahun yang lalu, di mana saya begitu senang dengan tepuk tangan, jabat erat, tawa lepas dan hasil evaluasi yang &#039;great&#039; dari setiap kelas pelatihan yang saya berikan. 

Empat tahun sebelum itu terjadi, saya mengalami berbicara di depan kelas dan orang garuk2 kepala sampai ketombenya berterbangan - ia bingung, makhluk di depannya ngomong apa. Dua belas tahun yang lalu itu, mau buat training pun membuat kepala pening apa yang mau diomongkan, bagaimana cara ngomongnya, bagaimana membuat orang tetap terjaga - alias nggak tidur atau keluar ruangan. Weleh, padahal memberi training itu adalah ritual kalau bukan disebut kewajiban setiap hari Sabtu.

Tepuk tangan, jabat erat, senyum terima kasih dah hasil evaluasi yang baik seakan menjadi &#039;upah&#039; untuk sebuah usaha menjadi lebih baik. Ya, memang lebih baik untuk ukuran &#039;jago kandang&#039;, karena semua training itu adalah di dalam perusahaan tempat saya bekerja.

Seorang teman yang belum lama saya kenal waktu itu bilang, &quot;Internal trainer baru benar-benar trainer ketika mampu memberikan training di kelas public&quot; Heh....ada tingkatan yg lebih tinggi rupanya....Baiklah, siapa takut??

Sial benar saya ini kenal dengan makhluk2 di Cahaya Hati. Training manager ditertawakan dan dikritik habis waktu menunjukkan keterampilan membawakan training di depan demo class yang mereka buat. Ah, belum lagi ketika trial class. Kalau yang namanya dr. Stefanus sampai garuk2 kepalanya yang semi botak, artinya dia bingung harus ngomong bagaimana (bukan ngomong apa). Parahnya....Ini cerita tahun 2004.

2006, saya menghindari disebut dengan predikat trainer dan lebih nyaman dengan predikat fasilitator. Bukan fasilitator pelatihan, tapi fasilitator workshop. Saya mulai tidak lagi bernafsu untuk membuat orang mengerti apa yang saya maksud dan mengikuti apa yang saya mau. 

2007, ilmu merancang program pelatihan yang saya dapat dari kuliah S2 saya terpakai dengan cara yang diluar dugaan. Disain menjadi lebih tepat dan mengena kebutuhan peserta, ketika rancangan menempatkan peserta sebagai subjek pelatihan. Yah, itu memang teori dasar dalam perancangan pelatihan, tapi saya paham bagaimana menempatkan peserta menjadi subjek. Apa yang disebut training needs assessment, training needs identification, training needs analysis, training implementation monitoring kini menjadi hidup. Bukan sekedar pengetahuan tapi menjadi ilmu untuk saya.

2008. adalah momentum kesadaran bahwa pelatihan bukan sekedar aktivitas mandiri, melainkan bagian dari sebuah skenario besar dalam organisasi sebuah institusi dan dalam organisasi kehidupan sebuah pribadi. Tanpa melihat organisasi itu, pelatihan menjadi &#039;bisu - dingin - tak bernyawa&#039;

Dalam konteks perusahaan, pelatihan adalah bagian dari pengembangan manusia. Dalam konteks pribadi, pelatihan adalah bagian dari pengembangan sumber daya manusia. Dalam pengembangan, fokus memang pada suatu hal tertentu, tetapi tetap perlu memperhatikan variable-variable lain yang berpengaruh, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pelatihan tersebut.

Pada akhirnya, yang menentukan keberhasilan suatu pelatihan, workshop, pendadaran, pengayaan, atau apapun namanya itu bukanlah apa materinya, siapa pembimbingnya atau hal-hal lainnya - yang menentukan keberhasilan adalah pribadi pesertanya; sehingga layaklah pribadi2 peserta itu yang berpredikat trainer.

Pembawa materi, pembawa cerita, pengaya wawawasan, provokator, teroris, atau penggembira bertanggung jawab untuk menguasai cara terbaik untuk &#039;menyadarkan&#039; trainer akan potensi, kemampuan, kebutuhan, keinginan, jalan serta harga untuk menjadi lebih baik; tapi bukan &#039;menyuapi - memaksakan - memasung&#039;.

Syukurlah saya menyadari hal ini sebelum lebih banyak mencelakakan orang dan berbangga dengan hasil evaluasi yang great for nothing; no practical impact.

Satu chapter dalam kehidupan telah berjalan, chapters berikutnya masih menanti. Ah, betapa membebaskannya sebuah kesadaran.....meski prosesnya begitu memuakkan hahaha.... Terima kasih rasa sakit, karena Engkau mengajarkan aku sebuah nilai yang lebih luhur.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Perjalanan</p>
<p>Ada suatu waktu, sekitar 8 tahun yang lalu, di mana saya begitu senang dengan tepuk tangan, jabat erat, tawa lepas dan hasil evaluasi yang &#8216;great&#8217; dari setiap kelas pelatihan yang saya berikan. </p>
<p>Empat tahun sebelum itu terjadi, saya mengalami berbicara di depan kelas dan orang garuk2 kepala sampai ketombenya berterbangan &#8211; ia bingung, makhluk di depannya ngomong apa. Dua belas tahun yang lalu itu, mau buat training pun membuat kepala pening apa yang mau diomongkan, bagaimana cara ngomongnya, bagaimana membuat orang tetap terjaga &#8211; alias nggak tidur atau keluar ruangan. Weleh, padahal memberi training itu adalah ritual kalau bukan disebut kewajiban setiap hari Sabtu.</p>
<p>Tepuk tangan, jabat erat, senyum terima kasih dah hasil evaluasi yang baik seakan menjadi &#8216;upah&#8217; untuk sebuah usaha menjadi lebih baik. Ya, memang lebih baik untuk ukuran &#8216;jago kandang&#8217;, karena semua training itu adalah di dalam perusahaan tempat saya bekerja.</p>
<p>Seorang teman yang belum lama saya kenal waktu itu bilang, &#8220;Internal trainer baru benar-benar trainer ketika mampu memberikan training di kelas public&#8221; Heh&#8230;.ada tingkatan yg lebih tinggi rupanya&#8230;.Baiklah, siapa takut??</p>
<p>Sial benar saya ini kenal dengan makhluk2 di Cahaya Hati. Training manager ditertawakan dan dikritik habis waktu menunjukkan keterampilan membawakan training di depan demo class yang mereka buat. Ah, belum lagi ketika trial class. Kalau yang namanya dr. Stefanus sampai garuk2 kepalanya yang semi botak, artinya dia bingung harus ngomong bagaimana (bukan ngomong apa). Parahnya&#8230;.Ini cerita tahun 2004.</p>
<p>2006, saya menghindari disebut dengan predikat trainer dan lebih nyaman dengan predikat fasilitator. Bukan fasilitator pelatihan, tapi fasilitator workshop. Saya mulai tidak lagi bernafsu untuk membuat orang mengerti apa yang saya maksud dan mengikuti apa yang saya mau. </p>
<p>2007, ilmu merancang program pelatihan yang saya dapat dari kuliah S2 saya terpakai dengan cara yang diluar dugaan. Disain menjadi lebih tepat dan mengena kebutuhan peserta, ketika rancangan menempatkan peserta sebagai subjek pelatihan. Yah, itu memang teori dasar dalam perancangan pelatihan, tapi saya paham bagaimana menempatkan peserta menjadi subjek. Apa yang disebut training needs assessment, training needs identification, training needs analysis, training implementation monitoring kini menjadi hidup. Bukan sekedar pengetahuan tapi menjadi ilmu untuk saya.</p>
<p>2008. adalah momentum kesadaran bahwa pelatihan bukan sekedar aktivitas mandiri, melainkan bagian dari sebuah skenario besar dalam organisasi sebuah institusi dan dalam organisasi kehidupan sebuah pribadi. Tanpa melihat organisasi itu, pelatihan menjadi &#8216;bisu &#8211; dingin &#8211; tak bernyawa&#8217;</p>
<p>Dalam konteks perusahaan, pelatihan adalah bagian dari pengembangan manusia. Dalam konteks pribadi, pelatihan adalah bagian dari pengembangan sumber daya manusia. Dalam pengembangan, fokus memang pada suatu hal tertentu, tetapi tetap perlu memperhatikan variable-variable lain yang berpengaruh, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pelatihan tersebut.</p>
<p>Pada akhirnya, yang menentukan keberhasilan suatu pelatihan, workshop, pendadaran, pengayaan, atau apapun namanya itu bukanlah apa materinya, siapa pembimbingnya atau hal-hal lainnya &#8211; yang menentukan keberhasilan adalah pribadi pesertanya; sehingga layaklah pribadi2 peserta itu yang berpredikat trainer.</p>
<p>Pembawa materi, pembawa cerita, pengaya wawawasan, provokator, teroris, atau penggembira bertanggung jawab untuk menguasai cara terbaik untuk &#8216;menyadarkan&#8217; trainer akan potensi, kemampuan, kebutuhan, keinginan, jalan serta harga untuk menjadi lebih baik; tapi bukan &#8216;menyuapi &#8211; memaksakan &#8211; memasung&#8217;.</p>
<p>Syukurlah saya menyadari hal ini sebelum lebih banyak mencelakakan orang dan berbangga dengan hasil evaluasi yang great for nothing; no practical impact.</p>
<p>Satu chapter dalam kehidupan telah berjalan, chapters berikutnya masih menanti. Ah, betapa membebaskannya sebuah kesadaran&#8230;..meski prosesnya begitu memuakkan hahaha&#8230;. Terima kasih rasa sakit, karena Engkau mengajarkan aku sebuah nilai yang lebih luhur.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Bagas Koro</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2009/07/29/trainer-adalah-pelatih-yang-melatih/comment-page-1/#comment-3598</link>
		<dc:creator>Bagas Koro</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 02:43:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=166#comment-3598</guid>
		<description>Mongkone, Kang eling ko telat? mbok biyen2! ne saiki piye to! ngeladrah dadine? wajar Kang! aku ae ngelatih manuk siul lan ngomong asal manuke Beo! sing iso dilatih, ne sing lianne angel, mangkane akeh sing mirip Beo gara2 ssmpean ngelatih imla neng wong.  yo sukur dadi tukang dokar asal ojo ngajari wong nyetir kapal mabur, sebab elmu ra gatuk.wong sing jenenge manungso iku kan pun duwe Sumber Dayane dewe. kok wani2 sampeyan ngelatihe? tego2ne manungso dipadani manuk kang kang????</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mongkone, Kang eling ko telat? mbok biyen2! ne saiki piye to! ngeladrah dadine? wajar Kang! aku ae ngelatih manuk siul lan ngomong asal manuke Beo! sing iso dilatih, ne sing lianne angel, mangkane akeh sing mirip Beo gara2 ssmpean ngelatih imla neng wong.  yo sukur dadi tukang dokar asal ojo ngajari wong nyetir kapal mabur, sebab elmu ra gatuk.wong sing jenenge manungso iku kan pun duwe Sumber Dayane dewe. kok wani2 sampeyan ngelatihe? tego2ne manungso dipadani manuk kang kang????</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ki ageng selo</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2009/07/29/trainer-adalah-pelatih-yang-melatih/comment-page-1/#comment-3597</link>
		<dc:creator>ki ageng selo</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 02:21:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=166#comment-3597</guid>
		<description>lagi jamane kolobendu kang.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lagi jamane kolobendu kang.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
