Selamat datang! Selamat membaca!


Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
atas kunjungan Anda ke portal ini.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila setelah membaca
tulisan dari para kontributor, komentator atau curahan hati
dari para pembaca, membuat Anda merasa tersinggung bahkan marah.

Bukan maksud kami atau penulis untuk menyinggung langsung
kepada para pembaca, karena sebuah tulisan bukanlah
suatu benda atau suara yang dapat Anda rasakan.
Silahkan tulis dengan jelas komentar Anda tentang
tulisan yang membuat Anda tersinggung agar kami dapat
memperbaiki tulisan di portal ini..

Terima kasih apabila tulisan para kontributor dapat bermanfaat
untuk Anda. Silahkan Anda gunakan sebaik-baiknya.
Kami doakan Anda berhasil. Apabila masih ada keraguan
dalam mempraktekkannya, silahkan hubungi kami.

Petuah yang Disalahgunakan IV – Bagian I

Written by 'Bos Ngapusi' on October 5, 2009 – 11:30 am - Dibaca 236 kali

Terapi Konyol Ala NLP – Bagian 1

Suatu pagi, di sebuah kota yang terletak di Jawa Tengah, saya bersua dengan salah seorang trainer yang cukup dikenal di lingkungan ranah NLP Indonesia. Kami pun lalu larut dalam perbincangan tentang berbagai hal yang menyangkut dunia NLP, hingga beberapa saat kemudian terlontarlah sebuah pernyataan dari bibir beliau yang membuat saya cukup kaget.

Pada awalnya, saya menganggap bahwa hal itu hanyalah sebagai sebuah guyonan belaka, namun kemudian saya mulai menjadi serius ketika sang trainer tersebut mengatakan bahwa pernyataannya tersebut dikutip dari website yang beralamat di www.nlpisnottherapy.com.

Website ini mengatakan bahwa menurut Richard Bandler; NLP bukanlah therapy!

Karena saya merasa sangat penasaran,maka saya pun berkunjung ke website tersebut untuk mempelajari lebih lanjut. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, jangankan mendapatkan jawaban, saya justru bertambah bingung. Yang menjadi pertanyaan adalah bukankah NLP itu hasil dari memodel beberapa therapist terkenal?

Pada saat yang bersamaan, Coach Cahaya Hati baru saja memperkenalkan teknik NLP terbaru . Beliau memberi nama teknik ini “Differential Integral Therapy”.

Saya pikir inilah kesempatan saya untuk yang kesekian kalinya untuk menguji Coach ini, karena selama ini saya selalu dibuat jengkel dan sakit hati dalam menerapkan NLP di kehidupan sehari-hari. Inilah saat yang tepat untuk menghadapkan pendapat beliau yang dikontraskan dengan pendapat dari Richard Bandler.

Hanya saja jawaban dari beliau; seperti biasa kembali membuat saya tercengang-cengang.

Ketika saya membenturkan pernyataan di atas, Coach dengan santainya menjawab: “Memang betul hampir semua metode dan teknik NLP saat ini hanyalah merupakan P3K yang membantu mendidik dan melatih pikiran klien dalam mengelola perasaannya sehingga belum layak untuk disebut sebagai terapi.”

Maka saya pun mulai mencoba menyudutkan. “Bukankah metode dan teknik NLP itu adalah hasil dari memodel beberapa psikoterapis terkenal seperti Milton Erickson, Fritz Perls, Virginia Satir dan lain-lain?“
“Betul!” Coach hanya menjawab singkat.

Hati saya mulai girang mendengar jawaban tersebut dan bertanya kembali. “Lalu mengapa metode dan teknik NLP tidak boleh disebut sebagai terapi?”

Kali ini Coach balik bertanya. “Sekarang coba sebutkan metode dan teknik di dalam Psikologi Klinis yang layak disebut sebagai terapi???!!!“

“Lho, memangnya tidak ada?” Saya balas bertanya lagi untuk mengejeknya.

“Sebagian besar dari metode dan teknik terapi yang ada saat ini sifatnya hanya sementara, karena hanya fokus pada gejala. Apalagi kalau terapisnya seperti kamu yang terlalu sering melakukan imposing yang tidak relevan terhadap pasien!“ jawab Coach sambil memalingkan wajahnya.

Saya mulai tersinggung dan dengan suara yang mulai tinggi, saya mengatakan,  “Lho, saya ini berpegang teguh pada salah satu prinsip terapi dalam NLP yaitu content free.“

Dengan santai, Coach bertanya balik, “Kenyataannya berapa banyak pasien kamu yang telah “SEMBUH”?“

Dengan agak sedikit narsis, saya menjawab dengan mantap, “Saya lihat  mereka semua pada akhirnya menjadi happy dan mendapatkan apa yang mereka mau“.

Kali ini dengan suara agak sinis, Coach berkata, “Apakah “HAPPY” itu berarti mereka sudah “SEMBUH”?

Ketika dihadapkan dengan sebuah pernyataan persamaan yang mempertanyakan apakah pasien yang “happy” dapat berarti bahwa pasien tersebut telah “sembuh”. Maka saya pun segera berpikir keras untuk mencari jawaban yang langsung segera dapat mengunci pernyataan persamaan tersebut.

Segera setelah mendapatkan jawaban, “Lho, misalnya seseorang datang dengan keluhan ‘phobia pada kecoa’. Jika orang itu sudah tidak takut lagi pada “kecoa”; bukankah berarti orang itu sudah “SEMBUH”?!!!

Coach menjawab dengan suara yang semakin meninggi, “Kamu ini Therapist atau The Rapist, sich sebenarnya?“

Kali ini saya luar biasa kaget. Spontan saya bertanya, “Maksudnya?“


Posted in Umum | 1 Comment »
Email This Post Email This Post


One Response to “Petuah yang Disalahgunakan IV – Bagian I”

  1. By titusbudi on Dec 28, 2009 | Reply

    terimakasih atas tulisan yang menginspirasi.

Post a Comment