Selamat datang! Selamat membaca!


Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
atas kunjungan Anda ke portal ini.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila setelah membaca
tulisan dari para kontributor, komentator atau curahan hati
dari para pembaca, membuat Anda merasa tersinggung bahkan marah.

Bukan maksud kami atau penulis untuk menyinggung langsung
kepada para pembaca, karena sebuah tulisan bukanlah
suatu benda atau suara yang dapat Anda rasakan.
Silahkan tulis dengan jelas komentar Anda tentang
tulisan yang membuat Anda tersinggung agar kami dapat
memperbaiki tulisan di portal ini..

Terima kasih apabila tulisan para kontributor dapat bermanfaat
untuk Anda. Silahkan Anda gunakan sebaik-baiknya.
Kami doakan Anda berhasil. Apabila masih ada keraguan
dalam mempraktekkannya, silahkan hubungi kami.

Petuah yang Disalahgunakan IV – Bagian II

Written by 'Bos Ngapusi' on October 5, 2009 – 11:42 am - Dibaca 167 kali

Terapi Konyol Ala NLP – Bagian 2

Pikiran saya melayang jauh ke masa-masa ketika saya masih menjadi mahasiswa kedokteran ketika Coach mengatakan, “Waktu kamu kuliah kedokteran dahulu apa sich yang disebut “Sembuh”; Yang diajarkan oleh guru kamu? Jangan-jangan kamu ini waktu kuliah dulu ‘Kurang Belajar’ sehingga sekarang jadi ‘Kurang Ajar’ sama pasien “

Saya yang sudah dari tadi sangat sebal menjawab sekenanya, “Sembuh itu kalau sakit dari si pasien sudah hilang.”

Coach bertanya lagi, “Jadi kalau seseorang datang dengan keluhan ‘panas badan’ , apakah dapat dikatakan sembuh jika panasnya sudah hilang?”

Dengan cepat saya menjawab, “Ya iya… lah, habis mau apa lagi?“

Dengan tidak kalah cepat Coach segera menanggapi, “HAH!!! Jadi kalau begitu kalau seseorang datang dengan keluhan panas badan kasih saja Paracetamol (salah satu obat penurun panas badan) banyak-banyak. Tidak perlu kasih yang lain lagi”.

Pada saat inilah saya mulai sadar, “Ya… tidak dong. Paracetamol ‘kan hanya untuk menghilangkan gejala panas badannya saja.”

Lalu Coach nyeletuk lagi, “Lalu kenapa dokter menambahkan antibiotik pada pasien yang datang dengan keluhan panas badan?”

Saya yang mulai mendapatkan angin mulai mengajukan protes. “Tidak semua panas badan perlu diberikan antibiotik.“

“Jangan lari dari topik. Seandainya seorang panas badan disebabkan karena tifus. Apa yang terjadi dengan pasien jika dokter hanya memberikan Paracetamol? Lalu karena dia merasa sudah sembuh dan tidak menjaga pola makan malah keluyuran seharian serta tidak istirahat yang cukup, apa yang akan terjadi?” Coach kembali membombardir saya dengan pertanyaan yang memojokan.

Saya jadi agak lemas dan perut menjadi mual ketika menjawab, “Dapat mengakibatkan ‘kematian’ karena lambungnya yang terluka dapat terjadi bocor lambung.“

Dengan suara yang tenang, Coach kembali bertanya, “Jadi apa yang disebut sebagai ‘SEMBUH’ itu?”

Tanpa perlawanan lagi, saya pun menjawab, “Kalau penyebab utama dan efek samping dari pengobatan tersebut sudah diselesaikan.“.
“Ingat baik-baik!!! Bedakan ‘Penyebab Utama’ dengan ‘Gejala Utama’. Itu yang membedakan seseorang ‘SEMBUH’ atau ‘TIDAK’. Seorang dokter saja begitu hati-hati dalam proses penyembuhan fisik sehingga tidak sembarangan melakukan pengobatan karena dapat mengakibatkan hal yang fatal. Apa yang terjadi jika kamu yang mengaku sebagai ‘terapis’ sembarangan terhadap ‘JIWA’ orang dalam melakukan sebuah proses yang kamu katakan sebagai Therapy? Bagaimana dengan nasib dari ‘JIWA’ yang malang itu kalau kamu sebagai terapisnya selalu lari dari tanggung jawab?!!!” kata Coach sambil matanya memelototi saya yang sudah sangat malu dengan pertanyaan-pertanyaan terakhir.

Dengan lirih saya masih mencoba membela diri, “Saya tidak pernah mengaku sebagai terapis. Yang saya lakukan hanyalah membantu teman-teman yang membutuhkan pertolongan”

Suara Coach tiba-tiba mengeras lagi, “Jangan lari dari tanggung jawab. Selama ini ‘kan setiap orang yang ‘phobia’, ‘kecanduan’, ‘depresi, ‘autis’ atau apapun, terapinya selalu itu-itu saja ‘kan? Apa bedanya seperti panas suhu badan, terapinya hanya satu yaitu Paracetamol?”

Saya kembali protes keras, “Bukankah ada begitu banyak metode terapi. Dari Fast Phobia Cure, Hypnotherapy, Client Centered, Gestalt , EFT, dll”.

Coach tersenyum mengejek, “Itu semua ‘kan hanya merk dagang yang lain dari Paracetamol. intinya hanya menyelesaikan ‘Gejala Utama’ tanpa memperdulikan ‘Penyebab Utama’!!!”


Posted in Umum | No Comments »
Email This Post Email This Post

Post a Comment