Selamat datang! Selamat membaca!


Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
atas kunjungan Anda ke portal ini.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila setelah membaca
tulisan dari para kontributor, komentator atau curahan hati
dari para pembaca, membuat Anda merasa tersinggung bahkan marah.

Bukan maksud kami atau penulis untuk menyinggung langsung
kepada para pembaca, karena sebuah tulisan bukanlah
suatu benda atau suara yang dapat Anda rasakan.
Silahkan tulis dengan jelas komentar Anda tentang
tulisan yang membuat Anda tersinggung agar kami dapat
memperbaiki tulisan di portal ini..

Terima kasih apabila tulisan para kontributor dapat bermanfaat
untuk Anda. Silahkan Anda gunakan sebaik-baiknya.
Kami doakan Anda berhasil. Apabila masih ada keraguan
dalam mempraktekkannya, silahkan hubungi kami.

Petuah yang Disalahgunakan IV – Bagian III

Written by 'Bos Ngapusi' on October 31, 2009 – 10:49 pm - Dibaca 251 kali

Terapi Konyol Ala NLP – Bagian 3

Baru kali ini perasaan saya begitu lelahnya, padahal pada awalnya saya begitu antusias untuk memulai diskusi. Emosi saya dipermainkan terus menerus sehingga saya sudah tidak sabar untuk segera mengakhiri debat yang sepertinya tidak berkesudahan ini. Apalagi ketika Coach mulai menyinggung lagi perbedaan antara ‘Gejala Utama’ dengan ‘Penyebab Utama’.

Merasa punya jawaban yang tepat, saya kembali bertanya. “Lho, kalau seseorang datang dengan ‘Phobia kecoa’. Penyebab utamanya ya pasti kecoa lah. Memangnya ada yang lain?”

Tiba-tiba Coach mengubah posisi duduknya sembari bertanya “Bagaimana jika ‘kecoa’ itu adalah ‘metaphor’ dari ‘Penyebab Utama?’

“Hah??!! Apakah ada hal seperti itu?” kembali saya tersentak kaget.

“Sangat banyak! Terutama di Indonesia yang budayanya tidak memungkinkan seseorang untuk membuka diri terlalu banyak“

Coach melanjutkan dengan lirih, “Bertobatlah. Bahkan sampai sekarang para founder dan developer  NLP tidak menggunakan istilah therapy didalam karya karyanya. Berhentilah menjadi The Rapist. Dan mulai belajar menjadi therapist yang sesungguhnya dimulai dengan melakukan therapy terhadap diri sendiri.”

Tiba-tiba saya teringat kembali asal muasal mengapa kami memulai diskusi. Lalu saya pun menuntut . “Lalu mengapa Bapak berani menggunakan istilah Differential Integral Therapy?”.

Coach hanya tersenyum.

Pada saat itu saya tersadar bahwa Coach kembali lagi telah berhasil melakukan therapy terhadap kesombongan dan kemunafikan diri saya yang merasa menjadi TUHAN. Melalui keyakinan bahwa selama ini saya merasa mampu menyembuhkan JIWA MANUSIA.

Tanpa sadar air mata menetes keluar dari ujung kedua kelopak mata saya.

Selesai.


Posted in Umum | No Comments »
Email This Post Email This Post

Post a Comment

Spam Protection by WP-SpamFree