<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Basic Principle of Life Expanding &#187; &#039;Bos Ngapusi&#039;</title>
	<atom:link href="http://kehidupanpd.info/author/steffanus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kehidupanpd.info</link>
	<description>Because Your LIFE is IMPORTANT</description>
	<lastBuildDate>Sun, 28 Mar 2010 10:35:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Petuah yang Disalahgunakan IV &#8211; Bagian III</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2009/10/31/petuah-yang-disalahgunakan-iv-bagian-iii/</link>
		<comments>http://kehidupanpd.info/2009/10/31/petuah-yang-disalahgunakan-iv-bagian-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 15:49:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#39;Bos Ngapusi&#39;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Terapi Konyol Ala NLP &#8211; Bagian 3
Baru kali ini perasaan saya begitu lelahnya,  padahal pada awalnya saya begitu antusias untuk memulai diskusi. Emosi  saya dipermainkan terus menerus sehingga saya sudah tidak sabar untuk  segera mengakhiri debat yang sepertinya tidak berkesudahan ini. Apalagi  ketika Coach mulai menyinggung lagi perbedaan antara &#8216;Gejala Utama&#8217; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Terapi Konyol Ala NLP &#8211; Bagian 3</strong></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">Baru kali ini perasaan saya begitu lelahnya,  padahal pada awalnya saya begitu antusias untuk memulai diskusi. Emosi  saya dipermainkan terus menerus sehingga saya sudah tidak sabar untuk  segera mengakhiri debat yang sepertinya tidak berkesudahan ini. Apalagi  ketika Coach mulai menyinggung lagi perbedaan antara &#8216;Gejala Utama&#8217;  dengan &#8216;Penyebab Utama&#8217;.</span></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">Merasa punya jawaban yang tepat, saya  kembali bertanya. “Lho, kalau seseorang datang dengan &#8216;<strong>Phobia kecoa&#8217;. </strong>Penyebab utamanya ya pasti <strong>kecoa </strong>lah. Memangnya ada yang lain?”</span></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">Tiba-tiba Coach mengubah posisi duduknya  sembari bertanya “Bagaimana jika &#8216;<strong>kecoa&#8217;</strong> itu adalah &#8216;<strong>metaphor&#8217; </strong> dari &#8216;<strong>Penyebab Utama?&#8217;</strong></span></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">“Hah??!! Apakah ada hal seperti itu?” kembali saya tersentak kaget.</span></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">“Sangat banyak! Terutama di Indonesia  yang budayanya tidak memungkinkan seseorang untuk membuka diri terlalu  banyak“</span></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">Coach melanjutkan dengan lirih, “Bertobatlah.  Bahkan sampai sekarang para founder dan developer  NLP tidak menggunakan  istilah therapy didalam karya karyanya. Berhentilah menjadi <strong>The Rapist. </strong> Dan mulai belajar menjadi therapist yang sesungguhnya dimulai dengan  melakukan therapy terhadap diri sendiri.”</span></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">Tiba-tiba saya teringat kembali asal  muasal mengapa kami memulai diskusi. Lalu saya pun menuntut . “Lalu  mengapa Bapak berani menggunakan istilah  <strong>Differential Integral Therapy</strong>?”.</span></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">Coach hanya tersenyum.</span></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">Pada saat itu saya tersadar bahwa Coach  kembali lagi telah berhasil melakukan therapy terhadap kesombongan dan  kemunafikan diri saya yang merasa menjadi TUHAN. Melalui keyakinan bahwa  selama ini saya merasa mampu menyembuhkan JIWA MANUSIA.</span></p>
<p><span style="font-family: Arial;font-size: small">Tanpa sadar air mata menetes keluar dari  ujung kedua kelopak mata saya.</span></p>
<p>Selesai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanpd.info/2009/10/31/petuah-yang-disalahgunakan-iv-bagian-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petuah yang Disalahgunakan IV &#8211; Bagian II</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2009/10/05/petuah-yang-disalahgunakan-iv-bagian-ii/</link>
		<comments>http://kehidupanpd.info/2009/10/05/petuah-yang-disalahgunakan-iv-bagian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 04:42:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#39;Bos Ngapusi&#39;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Terapi Konyol Ala NLP &#8211; Bagian 2 
Pikiran saya melayang jauh ke masa-masa ketika saya masih menjadi mahasiswa kedokteran ketika Coach mengatakan, “Waktu kamu kuliah kedokteran dahulu apa sich yang disebut “Sembuh”; Yang diajarkan oleh guru kamu? Jangan-jangan kamu ini waktu kuliah dulu &#8216;Kurang Belajar&#8217; sehingga sekarang jadi &#8216;Kurang Ajar&#8217; sama pasien “
Saya yang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Terapi Konyol Ala NLP &#8211; Bagian 2 </strong></p>
<p>Pikiran saya melayang jauh ke masa-masa ketika saya masih menjadi mahasiswa kedokteran ketika Coach mengatakan, “Waktu kamu kuliah kedokteran dahulu apa sich yang disebut “Sembuh”; Yang diajarkan oleh guru kamu? Jangan-jangan kamu ini waktu kuliah dulu &#8216;Kurang Belajar&#8217; sehingga sekarang jadi &#8216;Kurang Ajar&#8217; sama pasien “</p>
<p>Saya yang sudah dari tadi sangat sebal menjawab sekenanya, “Sembuh itu kalau sakit dari si pasien sudah hilang.”</p>
<p>Coach bertanya lagi, “Jadi kalau seseorang datang dengan keluhan &#8216;panas badan&#8217; ,  apakah dapat dikatakan sembuh jika panasnya sudah hilang?”</p>
<p>Dengan cepat saya menjawab, “Ya iya&#8230; lah, habis mau apa lagi?“</p>
<p>Dengan tidak kalah cepat Coach segera menanggapi, “HAH!!! Jadi kalau begitu kalau seseorang datang dengan keluhan panas badan kasih saja Paracetamol (salah satu obat penurun panas badan) banyak-banyak. Tidak perlu kasih yang lain lagi”.</p>
<p>Pada saat inilah saya mulai sadar, “Ya&#8230; tidak dong. Paracetamol &#8216;kan hanya untuk menghilangkan gejala panas badannya saja.”</p>
<p>Lalu Coach nyeletuk lagi, “Lalu kenapa dokter menambahkan antibiotik pada pasien yang datang dengan keluhan panas badan?”</p>
<p>Saya yang mulai mendapatkan angin mulai mengajukan protes. “Tidak semua panas badan perlu diberikan antibiotik.“</p>
<p>“Jangan lari dari topik. Seandainya seorang panas badan disebabkan karena tifus. Apa yang terjadi dengan pasien jika dokter hanya memberikan Paracetamol? Lalu karena dia merasa sudah sembuh dan tidak menjaga pola makan malah keluyuran seharian serta tidak istirahat yang cukup, apa yang akan terjadi?” Coach kembali membombardir saya dengan pertanyaan yang memojokan.</p>
<p>Saya jadi agak lemas dan perut menjadi mual ketika menjawab, “Dapat mengakibatkan &#8216;kematian&#8217; karena lambungnya yang terluka dapat terjadi bocor lambung.“</p>
<p>Dengan suara yang tenang, Coach kembali bertanya, “Jadi apa yang disebut sebagai &#8216;SEMBUH&#8217; itu?”</p>
<p>Tanpa perlawanan lagi, saya pun menjawab, “Kalau penyebab utama dan efek samping dari pengobatan tersebut sudah diselesaikan.“.<br />
“Ingat baik-baik!!! Bedakan &#8216;Penyebab Utama&#8217; dengan &#8216;Gejala Utama&#8217;. Itu yang membedakan seseorang &#8216;SEMBUH&#8217; atau &#8216;TIDAK&#8217;. Seorang dokter saja begitu hati-hati dalam proses penyembuhan fisik sehingga tidak sembarangan melakukan pengobatan karena dapat mengakibatkan hal yang fatal. Apa yang terjadi jika kamu yang mengaku sebagai &#8216;terapis&#8217; sembarangan terhadap &#8216;JIWA&#8217; orang dalam melakukan sebuah proses yang kamu katakan sebagai Therapy? Bagaimana dengan nasib dari &#8216;JIWA&#8217; yang malang itu kalau kamu sebagai terapisnya selalu lari dari tanggung jawab?!!!” kata Coach sambil matanya memelototi saya yang sudah sangat malu dengan pertanyaan-pertanyaan terakhir.</p>
<p>Dengan lirih saya masih mencoba membela diri, “Saya tidak pernah mengaku sebagai terapis. Yang saya lakukan hanyalah membantu teman-teman yang membutuhkan pertolongan”</p>
<p>Suara Coach tiba-tiba mengeras lagi, “Jangan lari dari tanggung jawab. Selama ini &#8216;kan setiap orang yang &#8216;phobia&#8217;, &#8216;kecanduan&#8217;, &#8216;depresi, &#8216;autis&#8217; atau apapun, terapinya selalu itu-itu saja &#8216;kan? Apa bedanya seperti panas suhu badan, terapinya hanya satu yaitu Paracetamol?”</p>
<p>Saya kembali protes keras, “Bukankah ada begitu banyak metode terapi. Dari Fast Phobia Cure, Hypnotherapy, Client Centered, Gestalt , EFT, dll”.</p>
<p>Coach tersenyum mengejek, “Itu semua &#8216;kan hanya merk dagang yang lain dari Paracetamol. intinya hanya menyelesaikan &#8216;Gejala Utama&#8217; tanpa memperdulikan &#8216;Penyebab Utama&#8217;!!!”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanpd.info/2009/10/05/petuah-yang-disalahgunakan-iv-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petuah yang Disalahgunakan IV &#8211; Bagian I</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2009/10/05/petuah-yang-disalahgunakan-iv-bagian-i/</link>
		<comments>http://kehidupanpd.info/2009/10/05/petuah-yang-disalahgunakan-iv-bagian-i/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 04:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#39;Bos Ngapusi&#39;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Terapi Konyol Ala NLP &#8211; Bagian 1
Suatu pagi, di sebuah kota yang terletak di Jawa Tengah, saya bersua dengan salah seorang trainer yang cukup dikenal di lingkungan ranah NLP Indonesia. Kami pun lalu larut dalam perbincangan tentang berbagai hal yang menyangkut dunia NLP, hingga beberapa saat kemudian terlontarlah sebuah pernyataan dari bibir beliau yang membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Terapi Konyol Ala NLP &#8211; Bagian 1</strong></p>
<p>Suatu pagi, di sebuah kota yang terletak di Jawa Tengah, saya bersua dengan salah seorang trainer yang cukup dikenal di lingkungan ranah NLP Indonesia. Kami pun lalu larut dalam perbincangan tentang berbagai hal yang menyangkut dunia NLP, hingga beberapa saat kemudian terlontarlah sebuah pernyataan dari bibir beliau yang membuat saya cukup kaget.</p>
<p>Pada awalnya, saya menganggap bahwa hal itu hanyalah sebagai sebuah guyonan belaka, namun kemudian saya mulai menjadi serius ketika sang trainer tersebut mengatakan bahwa pernyataannya tersebut dikutip dari website yang beralamat di www.nlpisnottherapy.com.</p>
<p>Website ini mengatakan bahwa menurut Richard Bandler; NLP bukanlah therapy!</p>
<p>Karena saya merasa sangat penasaran,maka saya pun berkunjung ke website tersebut untuk mempelajari lebih lanjut. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, jangankan mendapatkan jawaban, saya justru bertambah bingung. Yang menjadi pertanyaan adalah bukankah NLP itu hasil dari memodel beberapa therapist terkenal?</p>
<p>Pada saat yang bersamaan, Coach Cahaya Hati baru saja memperkenalkan teknik NLP terbaru . Beliau memberi nama teknik ini “Differential Integral Therapy”.</p>
<p>Saya pikir inilah kesempatan saya untuk yang kesekian kalinya untuk menguji Coach ini, karena selama ini saya selalu dibuat jengkel dan sakit hati dalam menerapkan NLP di kehidupan sehari-hari. Inilah saat yang tepat untuk menghadapkan pendapat beliau yang dikontraskan dengan pendapat dari Richard Bandler.</p>
<p>Hanya saja jawaban dari beliau; seperti biasa kembali membuat saya tercengang-cengang.</p>
<p>Ketika saya membenturkan pernyataan di atas, Coach dengan santainya menjawab: “Memang betul hampir semua metode dan teknik NLP saat ini hanyalah merupakan P3K yang membantu mendidik dan melatih pikiran klien dalam mengelola perasaannya sehingga belum layak untuk disebut sebagai terapi.”</p>
<p>Maka saya pun mulai mencoba menyudutkan. “Bukankah metode dan teknik NLP itu adalah hasil dari memodel beberapa psikoterapis terkenal seperti Milton Erickson, Fritz Perls, Virginia Satir dan lain-lain?“<br />
“Betul!” Coach hanya menjawab singkat.</p>
<p>Hati saya mulai girang mendengar jawaban tersebut dan bertanya kembali. “Lalu mengapa metode dan teknik NLP tidak boleh disebut sebagai terapi?”</p>
<p>Kali ini Coach balik bertanya. “Sekarang coba sebutkan metode dan teknik di dalam Psikologi Klinis yang layak disebut sebagai terapi???!!!“</p>
<p>“Lho, memangnya tidak ada?” Saya balas bertanya lagi untuk mengejeknya.</p>
<p>“Sebagian besar dari metode dan teknik terapi yang ada saat ini sifatnya hanya sementara, karena hanya fokus pada gejala. Apalagi kalau terapisnya seperti kamu yang terlalu sering melakukan imposing yang tidak relevan terhadap pasien!“ jawab Coach sambil memalingkan wajahnya.</p>
<p>Saya mulai tersinggung dan dengan suara yang mulai tinggi, saya mengatakan,  “Lho, saya ini berpegang teguh pada salah satu prinsip terapi dalam NLP yaitu content free.“</p>
<p>Dengan santai, Coach bertanya balik, “Kenyataannya berapa banyak pasien kamu yang telah “SEMBUH”?“</p>
<p>Dengan agak sedikit narsis, saya menjawab dengan mantap, “Saya lihat  mereka semua pada akhirnya menjadi happy dan mendapatkan apa yang mereka mau“.</p>
<p>Kali ini dengan suara agak sinis, Coach berkata, “Apakah “HAPPY” itu berarti mereka sudah “SEMBUH”?</p>
<p>Ketika dihadapkan dengan sebuah pernyataan persamaan yang mempertanyakan apakah pasien yang “happy” dapat berarti bahwa pasien tersebut telah “sembuh”. Maka saya pun segera berpikir keras untuk mencari jawaban yang langsung segera dapat mengunci pernyataan persamaan tersebut.</p>
<p>Segera setelah mendapatkan jawaban, “Lho, misalnya seseorang datang dengan keluhan &#8216;phobia pada kecoa&#8217;. Jika orang itu sudah tidak takut lagi pada “kecoa”; bukankah berarti orang itu sudah “SEMBUH”?!!!</p>
<p>Coach menjawab dengan suara yang semakin meninggi, “Kamu ini Therapist atau The Rapist, sich sebenarnya?“</p>
<p>Kali ini saya luar biasa kaget. Spontan saya bertanya, “Maksudnya?“</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanpd.info/2009/10/05/petuah-yang-disalahgunakan-iv-bagian-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petuah yang Disalahgunakan (3)</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2008/10/26/petuah-yang-disalahgunakan-3/</link>
		<comments>http://kehidupanpd.info/2008/10/26/petuah-yang-disalahgunakan-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 15:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#39;Bos Ngapusi&#39;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Unconscious Mind vs Subconscious Mind
“Apakah memang ada perbedaan antara subconscious mind dan unconscious mind. Bedanya di mana? Dan bagaimana tahu perbedaanya? Mohon pencerahan!”
Pertanyaan di atas diajukan oleh seorang penanya di dunia maya ke saya. Pertanyaan ini membuat saya agak kaget karena dalam dunia NLP modern, hal ini sudah bukan menjadi rahasia lagi. Apalagi sejak adanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Unconscious Mind vs Subconscious Mind</strong></p>
<p>“Apakah memang ada perbedaan antara subconscious mind dan unconscious mind. Bedanya di mana? Dan bagaimana tahu perbedaanya? Mohon pencerahan!”</p>
<p>Pertanyaan di atas diajukan oleh seorang penanya di dunia maya ke saya. Pertanyaan ini membuat saya agak kaget karena dalam dunia NLP modern, hal ini sudah bukan menjadi rahasia lagi. Apalagi sejak adanya kebutuhan para founder NLP untuk melakukan pengkaderan trainer dan peneliti NLP generasi baru di awal tahun 2000-an. Dimana Robert Dilts memulai dengan Millenium Project, dan sepanjang yang saya tahu John Grinder dengan New Code-nya, Richard Bandler dengan Neuro Hypnotic Repatterning-nya, Connirae Andreas dengan Core Transformation dan banyak lagi. Saya pikir mereka sudah mulai mengajarkan kepada kader-kader utamanya dalam kelas khusus tentang perbedaan di antara keduanya. <span id="more-146"></span></p>
<p>Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika saya masih belum membedakan keduanya di dalam training yang saya selenggarakan.</p>
<p>Pada saat itu saya baru saja selesai mengajar di sebuah kelas dan para peserta pun baru selesai memberikan kesaksian atas hasil yang mereka dapatkan dari kelas tersebut. Dalam keadaan yang puas dan berbangga diri, tiba-tiba Coach mendatangi dan mengatakan, “Saya kecewa, kamu masih belum bertobat, tipu daya kamu dalam pengajaran masih terlalu jahat.”</p>
<p>Saya bingung. “Loh, semua yang saya ajarkan sesuai dengan teori dari NLP. Salah di bagian mananya?”, ujar saya membela diri.</p>
<p>“Kamu ngajarin mereka doktrin yang kamu dapatkan di Amerika bahkan tanpa menyesuaikan dengan budaya Indonesia.”</p>
<p>“Tapi ‘kan berhasil dan mereka semua happy.” jawab saya dalam keadaan antara marah dan bingung.</p>
<p>“Kalau kamu tidak tahu kenapa sebuah metode dan teknik itu berhasil pada seseorang. Dan apa yang kemudian mengubah kehidupan seseorang; kamu tidak akan tahu dampak dari terapi dan pengajaran yang kamu berikan hari ini bagi kehidupan orang tersebut selanjutnya.”</p>
<p>“Maksudnya?” Mata saya memicing tajam menatapnya tetapi di saat yang sama tenggorokan saya sepertinya tercekat dan kering.</p>
<p>“Kamu tahu ‘kan bahwa banyak orang menjadi terlalu percaya diri sehingga hidupnya malah jadi bangkrut setelah ikut training jalan di atas api yang diselenggarakan di Malaysia dan Singapura.”</p>
<p>“Betul? Memang masalahnya ada di mana?”</p>
<p>“Masalahnya adalah mereka tidak tahu mengapa metode dan teknik itu terlihat seperti membawa perubahan.”</p>
<p>“Lalu? Dari para founder pun saya belajar bahwa dalam NLP lebih menekankan akan ‘How’nya daripada ‘Why’nya.”</p>
<p>“Betul!”</p>
<p>“Di tingkat praktisi dan master praktisi bahkan di tingkat trainer juga jarang membicarakan ‘Why’nya. Kenapa hal ini sekarang jadi masalah?”</p>
<p>“Setuju! Coba kamu ingat-ingat lagi pada waktu kamu mendapatkan kelas khusus Robert Dilts… Apa yang kamu pelajari di sana?</p>
<p>Saya terdiam dengan pertanyaan itu.</p>
<p>Coach kemudian melanjutkan,“Di tingkat seperti ini kamu seharusnya sudah dapat membedakan ‘Why’ sebagai pembenaran atau ‘Why’ yang dipakai sebagai tools awal untuk mengenal kebenaran.”</p>
<p>“Ok, baik. Tapi dalam hal apa saya perlu berubah agar tidak menjerumuskan orang-orang dari pemahaman yang merugikan?”</p>
<p>Sambil tersenyum tipis Coach berkata, “Mulailah membedakan Subconsciuous dan Unconsciuos dalam pengajaran dan terapimu.”</p>
<p>“Hah!!? Apakah hal itu begitu penting untuk tingkatan NLP Indonesia saat ini?” ujar saya setengah protes. (Saat itu masih di awal tahun 2000-an)</p>
<p>Dengan tenang Coach bertanya kembali, “Apa bahasa Indonesianya untuk menerjemahkan Subconscious Mind?”</p>
<p>“Pikiran Bawah sadar!” jawab saya setengah berteriak.</p>
<p>“Apa? PIKIRAN Bawah Sadar?” Nada dan suara Coach agak keras dan sinis.</p>
<p>“Emang betul, kok. Apanya yang salah?” Kenapa dari tadi semuanya salah terus, batin saya yang memang sudah sangat kesal dari sejak tadi.</p>
<p>“Pada waktu kamu menyebut Pikiran Bawah Sadar ke murid-muridmu. Kamu sudah menginstall bahwa Mind manusia hanyalah terdiri dari pikiran. Orang seperti kamu inilah yang telah merusak bangsa ini sehingga sampai pada kondisi seperti sekarang ini.”</p>
<p>“Loh? Mind itu ‘kan pikiran. Dimana-mana terjemahannya begitu!” ujar saya dengan marah.</p>
<p>“Coba buka kamus Thesaurus. Apa itu Mind?”</p>
<p>Jawab saya, “Isi otak. Brain!”</p>
<p>“Apakah brain hanya berisi pikiran?”</p>
<p>Di situ saya tersentak sadar, “Oh!”</p>
<p>“Di dalam Mind manusia berisi pikiran dan perasaan sehingga ketika kamu menterjemahkannya sebagai PIKIRAN Bawah Sadar. Kamu sudah menginstall mereka untuk hanya mengunakan pikiran dan tidak mengunakan perasaan dalam bertindak dan berperilaku. Akibatnya, manusia Indonesia menjadi tidak tahu malu. Oleh karenanya bertobatlah! Sudah terlalu dalam dosa yang kamu perbuat dalam pelatihan-pelatihan yang kamu selenggarakan!”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanpd.info/2008/10/26/petuah-yang-disalahgunakan-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PETUAH YANG DISALAHGUNAKAN (2)</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2008/07/14/petuah-yang-disalahgunakan-2/</link>
		<comments>http://kehidupanpd.info/2008/07/14/petuah-yang-disalahgunakan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 09:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#39;Bos Ngapusi&#39;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Visualisasi dan Afirmasi
Suatu ketika seorang sahabat memperlihatkan sebuah buku kepada saya. &#8220;Pak, ini ada buku yang sangat luar biasa. Bagaimana menurut bapak tentang buku ini?&#8221; ujarnya berapi-api.
&#8220;Mohon maaf, saya belum dapat memberikan komentar. Sejujurnya saya belum pernah membaca buku ini.&#8221; kata saya.

Mendengar jawaban saya, sahabat tersebut tidak berkomentar banyak, tetapi saya menangkap bahasa tubuhnya mengatakan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="x-small;"><strong>Visualisasi dan Afirmasi</strong></span></div>
<p><span style="x-small;">Suatu ketika seorang sahabat memperlihatkan sebuah buku kepada saya. &#8220;Pak, ini ada buku yang sangat luar biasa. Bagaimana menurut bapak tentang buku ini?&#8221; ujarnya berapi-api.</p>
<p>&#8220;Mohon maaf, saya belum dapat memberikan komentar. Sejujurnya saya belum pernah membaca buku ini.&#8221; kata saya.</p>
<p></span></p>
<p>Mendengar jawaban saya, sahabat tersebut tidak berkomentar banyak, tetapi saya menangkap bahasa tubuhnya mengatakan, &#8220;Kok bisa, ya? Buku best seller dan banyak dibicarakan orang-orang dari kalangan trainer sampai orang awam belum dia baca.&#8221;<span id="more-106"></span></p>
<p>Saya kemudian tersenyum kecut terhadap ketidakpedulian saya pada perkembangan dunia training di Indonesia. Akhirnya sahabat saya ini meminjamkan buku yang dimaksudkannya kepada saya.</p>
<p>Ternyata buku tersebut berisi rahasia untuk mencapai keberhasilan dalam hidup. Penulis buku itu meyakini bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk mendapatkan APAPUN yang diinginkannya seperti layaknya lampu Aladin.</p>
<p>Jika hal itu yang dikatakan buku tersebut, sebetulnya bukanlah merupakan rahasia baru. Itu adalah barang lama yang dikemas ulang dengan lebih menarik. Hanya kali ini disajikan secara multimedia, sehingga bagi yang malas membaca bukunya cukup menonton filmnya.</p>
<p>Isi dari filmnya pun tidak kalah menarik dengan menampilkan kesaksian dari berbagai tokoh; baik yang nyata ataupun tokoh imajiner. Persamaan dari kesaksian mereka adalah jika seorang manusia mampu melakukan visualisasi dan meyakini apa yang diinginkannya maka alam semesta pasti akan menyediakannya.</p>
<p>Malam itu saya tidak dapat tidur karena teringat kembali segala tipu daya dan kebohongan yang pernah saya lakukan kepada para mitra bisnis saya. Terutama pada saat memotivasi mereka agar memiliki omzet penjualan yang besar. Pada saat itu,bukan saja visualisasi yang saya ajarkan melainkan juga segala bentuk afirmasi. Misalnya, meminta mereka menggunting gambar impian dan menempelkan di tempat-tempat yang mudah terlihat. Jika perlu di langit-langit kamar tidur agar setiap mau beranjak dan bangun tidur selalu mengingat impian tersebut. Melakukan afirmasi setiap pagi dan sore di depan cermin dengan kalimat, &#8220;Anda adalah apa yang Anda pikirkan. Jika Anda pikir bisa maka Anda pasti bisa!&#8221;</p>
<p>Sambil mengingat kembali keheranan saya ketika belajar NLP. Mengapa para founder yang saya kenal tidak mengajarkan konsep visualisasi dan afirmasi untuk meraih sukses seperti yang saya pelajari sebelumnya.</p>
<p>Jika ditanya, mereka rata-rata tersenyum simpul. Ada yang mengatakan, &#8220;We don’t use that for outcome.&#8221;, sedang yang lain mengatakan,&#8221;Wellformed Outcome is enough.&#8221;</p>
<p>Setelah menamatkan Master Practitioner, saya kembali melanjutkan bisnis saya melalui penggabungkan ilmu NLP dengan visualisasi dan afirmasi sehingga melahirkan ilmu baru yang saya namakan visualisasi dan afirmasi ala NLP.</p>
<p>Langkah-langkah itu lebih sistematis, logis dan menyemangati bagi yang mempraktekannya dibandingkan jika ilmu tadi berdiri sendiri-sendiri. Tetapi anehnya, kok malah bisnis saya jadi hancur dan rumah tangga menjadi retak (baca: PETUAH YANG DISALAHGUNAKAN (1)). Apanya yang salah, nih? Semakin dicari jawabannya, bukannya mendekat malah semakin menjauh.</p>
<p>Saya sangat marah kepada SANG PENCIPTA AGUNG. Mengapa mempermainkan diri saya? Saya pikir sepertinya sudah banyak yang saya lakukan untuk kebaikan sesama, tetapi kenapa saya masih dibalas dengan duka nestapa serta derita tiada akhir?</p>
<p>Saya teringat kembali akan orang misterius yang menyadarkan saya tentang inti Outcome. Saya pikir inilah saatnya membalas dengan menguji pertanyaan ini kepadanya. Saya yakin dia pun pasti bakal kelimpungan. Tetapi ternyata jawabannya semakin membuat saya marah dan kesal. Dengan entengnya dia cuma bilang,&#8221;Selama kamu masih melakukan PEMBENARAN dalam hidup ini, outcome kamu tidak akan pernah tercapai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apanya yang PEMBENARAN?!!!&#8221;, maki saya dalam hati karena setiap ditanya, jawaban yang diberikan seputar itu-itu melulu. &#8220;Saya ini sedang ada masalah dan mencari jawaban serta solusi atas masalah yang sedang dihadapi!!! Bukan sedang bermain tebak-tebakan!&#8221;</p>
<p>Sampai akhirnya di satu titik, saya kembali tersadarkan akan KEBENARAN dari presupposition &#8220;The Map is Not The Territory.&#8221; Saya sekarang menjadi paham akan jawaban dari para founder NLP terhadap visualisasi dan afirmasi.</p>
<p>Saya sadar bahwa semua keyakinan saya mengenai afirmasi, visualisasi ataupun terori-teori sukses dan kekayaan itu semuanya adalah Map dan bukanlah Territory atau kebenaran yang sesungguhnya.</p>
<p>Apa yang menjadi kebenaran yang sesungguhnya?</p>
<p>Ada banyak orang di dunia mempunyai map yang sangat besar dan luas. Map mereka mengatakan : manusia adalah ciptaan special dari SANG PENCIPTA AGUNG.</p>
<p>Seandainya Map itu benar dan merupakan sebuah aksioma, timbul pertanyaan dalam diri; saya ini siapa? Sampai berpikir dapat memerintah SANG PENCIPTA AGUNG &#8211; THE GREAT BIG BOSS?</p>
<p>OH LORD, Ampuni aku yang telah mengelabui, membohongi dan melakukan tipu daya pada banyak ciptaanMU dengan mengatakan ada CARA lain &#8220;secara sains&#8221; untuk membuat ENGKAU mengabulkan SEMUA KEINGINAN kami yang kadang hanyalah untuk pemuasan hawa nafsu belaka. Amin.</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanpd.info/2008/07/14/petuah-yang-disalahgunakan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>110</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PETUAH YANG DISALAHGUNAKAN (1)</title>
		<link>http://kehidupanpd.info/2008/05/29/petuah-yang-disalahgunakan-1/</link>
		<comments>http://kehidupanpd.info/2008/05/29/petuah-yang-disalahgunakan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 11:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>&#39;Bos Ngapusi&#39;</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kehidupanpd.info/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[

Suatu sore di sela-sela kunjungan ke Jakarta, ketika baru saja menikmati layanan sempurna dari terapis yang cantik dan seksi di sebuah pusat kebugaran, tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Rupanya kawan-kawan alumni dan coach Cahaya Hati sedang ngumpul dan mengundang untuk bergabung bersama sambil kongkow-kongkow.
Setibanya di sana; kawan-kawan sudah bercerita tentang sebuah web sebagai sarana menulis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div></div>
<p><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Suatu sore di sela-sela kunjungan ke Jakarta, ketika baru saja menikmati layanan sempurna dari terapis yang cantik dan seksi di sebuah pusat kebugaran, tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Rupanya kawan-kawan alumni dan coach Cahaya Hati sedang ngumpul dan mengundang untuk bergabung bersama sambil kongkow-kongkow.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Setibanya di sana; kawan-kawan sudah bercerita tentang sebuah web sebagai sarana menulis bagi para alumni BP. Rencana launchingnya bertepatan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Masih belum sadar benar dengan pembicaraan teman-teman, Coach Cahaya Hati langsung nyelutuk, “Hayo, nyumbang tulisannya, dong.”<span id="more-22"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Sejujurnya waktu itu saya belum ada ide sama sekali untuk menulis tentang apa. Motivasi awal saya belajar NLP sampai hari ini juga sudah jauh melenceng. Ketika banyak kawan tertarik dengan metode dan teknik, saya masa bodoh dan kayaknya kok jadi semakin tidak bernafsu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Di awal 2000-an saya begitu tergila-gila dengan ilmu NLP ini. Konon ilmu ini bisa menjadikan praktisinya seperti “Tuhan”. <span style="yes;"> </span>Sebagai seorang lulusan sekolah kedokteran, saya sangat tahu bahwa penyembuhan alergi membutuhkan waktu dan tenaga yang lama namun dengan metode dan teknik NLP kadang hanya butuh waktu 3-60 menit. Dan masih banyak lagi “keajaiban-keajaiban” yang dapat dilakukan metode dan teknik NLP ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Kemudian saya pasang target harus mencapai Master Practitioner NLP langsung dari para founder dan Master Hypnosis dan Hypnotherapis dari ahlinya. Harapan saya waktu itu cuma satu. Mau cari uang sebanyak-banyaknya; siapa tahu juga dapat bersenang-senang dengan wanita cantik di mana-mana. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Hanya saja masalahnya mulai bermunculan ketika saya sudah mendapat sertifikasi Master Practitioner NLP dari NLP Comprehensive di Colorado, USA. Bisnis yang saya kembangkan bukannya maju, kok malah mundur teratur. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Semua metode dan teknik seolah lumpuh untuk menyelamatkan bisnis dan keluarga saya. Hubungan keluarga bukannya semakin intim, malah sebaliknya yang terjadi. Padahal kami berdua sudah Certified Practitioner NLP. Kemampuan ilmu NLP untuk mengerti orang lain, bukannya dipakai untuk membuat keluarga lebih harmonis, melainkan dipakai untuk saling memanipulasi antar anggota keluarga yang sudah mempelajari NLP, sehingga anak yang menjadi korban.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Sampai suatu ketika ada seseorang yang datang ke saya dan berkata,”Heran, ya. Sudah belajar NLP sampai tingkat Master Practitioner dari para founder di Amerika, kok dalam kesehariannya tidak menunjukan sikap NLP yang benar.” </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Saya bingung. Lalu saya mempertanyakan apa maksud dari kalimat tersebut, “Maksud Anda?” </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Orang ini malah balik bertanya, “Apa sih, inti NLP?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Saya jawab, “Memodel.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">“Memodel siapa dan untuk apa?”, tanyanya lagi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">“Memodel orang yang excellent agar menjadi excellent.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">“Untuk menjadi excellent, apa hal pertama yang harus dimiliki seseorang itu?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">“Maksudnya?” Tanya saya semakin bingung dan mulai jengkel.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Orang ini malah bertanya lagi, “Semua metode dan teknik NLP diawali dengan apa?”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">“Clear Outcome!” suara saya mulai meninggi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">“Clear Outcome? Apaan tuh?”dengan kalem orang ini bertanya dengan nada sinis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">“Clear Outcome, ya Clear Outcome! Outcome yang jelas!” Jawab saya dengan wajah memerah dan nafas tersegal-segal karena hati ini sudah mulai tidak karuan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">“Loh? Iya, betul…. Intinya Outcome apa, sih?” Saya seolah dicecar terus oleh manusia ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Pada titik itulah akhirnya saya sadar. Dan pada saat yang sama saya menjadi ragu-ragu; apakah betul ilmu NLP ini sesuai dengan keinginan saya untuk memajukan bisnis. Dimana ketika itu saya sudah mulai menjual metode dan teknik NLP yang saya pelajari.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Ternyata semuanya itu pada akhirnya adalah kebohongan belaka, bahkan berakibat keretakan rumah tangga dan ambruknya bisnis saya. Tersadarlah saya akan inti outcome saya yang sesungguhnya.</span></span></p>
<div></div>
<p><span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;"><span><span style="Times New Roman;">Demikianlah sekilas cerita tentang bagaimana kebohongan dan tipu daya penerapkan NLP di dalam kehidupan dan bisnis saya. Nanti saya lanjutkan lagi dengan kebohongan dan tipu daya yang berikutnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="0cm 0cm 10pt;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kehidupanpd.info/2008/05/29/petuah-yang-disalahgunakan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
